Sunday 24 April 2011

Jamnapari: Galur Kambing Perah di India


Kambing Jamnapari (disebut juga kambing Jamunapari, atau terkenal dengan nama kambing Etawa di Indonesia) merupakan salah satu nenek moyang kambing Nubia Amerika. Kambing Nubia ini berasal dari perkawinan silang kambing Jamnapari dari India dan kambing Zaraibi Mesir dengan kambing asli Inggris, setelah kambing ini tiba di Inggris dibawa kapal dagang sebagai bagian dari setiap kargo. Perkawinan silang ini menghasilkan galur kambing Anglo-Nubia.

Selain menjadi nenek moyang kambing Anglo-Nubia (atau kambing Nubia), kambing Jamnapari juga merupakan nenek moyang kambing Etawa atau Peranakan Etawa (PE) di Indonesia. Kambing Jamnapari mulai masuk Indonesia pada tahun 1925 ketika pemerintah kolonial Belanda mulai melakukan importasi kambing unggul ini untuk meningkatkan kinerja kambing lokal melalui perkawinan silang dengan kambing Kacang.

Kambing Jamnapari dikenal sebagai kambing perah terbaik di India. Kambing Jamnapari juga merupakan galur kambing berbadan paling tinggi dan biasanya dikenal sebagai kambing Pari di daerah asalnya karena penampilannya yang gagah. Daerah asal kambing ini dan habitat alaminya adalah daerah Chakarnagar di distrik Etawah di negara bagian Uttar Pradesh, di sepanjang delta sungai Jamuna dan Chambal, dan distrik Bhind di negara bagian Madhya Pradesh di sepanjang sungai Kwari, di sebelah timur New Dehli dan tidak jauh dari Taj Mahal yang terkenal di Agra. Kambing Jamnapari beradaptasi dengan baik dengan jurang-jurang khas di daerah ini dan tumbuhan semak dan belukarnya yang lebat. Kambing Jamnapari nampaknya telah berevolusi khusus di lingkungan ini, karena secara alami galur kambing ini tidak terdapat di daerah-daerah sekitarnya di luar daerah asalnya.

Habitat
Daerah asal kambing Jamnapari terletak di antara 26,8 derajat lintang utara dan 79,3 derajat bujur timur. Daerah Chakarnagar terletak 24 mil di sebelah tenggara kota Etawah di sepanjang sungai Jamuna di daerah seluas 34 hektar. Karena keadaan tanahnya mengalami erosi parah, permukaan tanah di daerah ini bergelombang tidak merata, membentuk ngarai-ngarai dan jurang-jurang dengan kedalaman 3 hingga 46 meter. Pada musim panas cuacanya kering dan panas dengan temperatur mencapai 66º C. Pada musim dingin, temperaturnya turun hingga 14 sampai 16º C.

Curah hujan per tahun sekitar 456 cm3, yang tersebar selama musim hujan. Ngarai dan jurang tertutup semak lebat dan tumbuhan pohon tahan kering, terutama mesquite (Prosopis juliflora), plum (Ziziphus jujuba), babul (Acacia nilotica), conkra (Prosopis spicigera), dan hingota (Balanites aegyptica). Tanaman pepadian utama adalah arhar yang eksotis (Cassia cacjam), gram (Cassia erientinum) dan bajara (Pennisetum aegypticum), dan tergantung pada hujan karena tidak ada sarana irigasi di daerah ini.

Anatomi
Kambing Jamnapari berbulu putih dan pendek kecuali di bagian paha dan kaki belakangnya yang berbulu panjang. Ciri utama galur kambing Jamnapari adalah hidungnya yang sangat cembung dan telinganya yang panjang menggantung. Lehernya panjang, berotot dan tegak. Pinggangnya kuat tapi biasanya melengkung; ekornya pendek dan biasanya melengkung ke atas.

Panjang telinga sekitar 20 cm pada anak kambing Jamnapari berumur tiga sampai enam bulan, yang tumbuh hingga 31 cm pada kambing Jamnapari dewasa. Tanduk mengarah ke belakang dan panjangnya sekitar 23 cm pada kambing Jamnapari dewasa. Ambingnya cukup besar dibandingkan dengan kambing “perah” Asia lainnya, tapi menggantung. Putingnya mudah diperah dengan tangan dan panjangnya 15 cm.

Meskipun panjang telinga kambing Jamnapari dewasa sekitar 31 cm, wajah dan mulutnya lebih pendek sekitar 5 hingga 8 cm daripada telinganya, sehingga menyebabkan perbandingan kritis dan merugikan 1:4 antara panjang telinga dengan panjang wajah. Hal ini menyebabkan telinga kambing Jamnapari menyentuh tanah atau menghambat mulutnya saat berusaha merumput atau makan. Selain itu, matanya juga bisa tertutup oleh telinganya yang panjang. Karena itu, kambing Jamnapari berevolusi sehingga lebih suka mencari makan dengan meramban semak-semak, dedaunan pohon dan pucuk rerumputan daripada merumput di tanah, yang membuat galur kambing ini rentan terhadap perubahan lingkungan.

Kebiasaan Makan
Pada musim dingin, kambing Jamnapari menggunakan sekitar 94% waktunya untuk meramban dengan lahap, tapi hanya memanfaatkan 55% waktunya untuk meramban pada musim panas dan kemudian meramban perlahan. Kalau tidak ada tumbuhan atas, yang menjadi pilihan utama kambing ini, kambing Jamnapari mencari tumbuhan tengah yang lebih disukai daripada tumbuhan bawah.

Hidungnya yang sangat cembung membuat rahang dan bibir atas kebanyakan kambing Jamnapari lebih pendek daripada rahang bawah, keadaan yang dinamakan “rahang atas pendek” atau brakignatia, yang merupakan ciri gen resesif. Ini nampaknya merupakan faktor penyebab kebiasaan kambing Jamnapari yang lebih suka meramban daripada merumput dibandingkan dengan hewan ruminansia lain karena bibir dan rahang bawah kambing Jamnapari lebih dulu menyentuh tanah tanpa bibir dan rahang atas yang membuat kambing Jamnapari kesulitan untuk menggigit dan merenggut rumput. Akibat terjadinya penggundulan hutan dan reklamasi tanah, daerah asal mula kambing Jamnapari dengan tumbuhan semaknya yang lebat ini sekarang sudah jauh berubah sehingga kambing Jamnapari kesulitan meramban, dan dengan demikian mengancam keberadaan galur kambing Jamnapari.

Manajemen Perkandangan
Kambing Jamnapari biasanya dipelihara dengan sistem manajamen ekstensif, yaitu kambing mencari pakan hijauan selama tujuh hingga dua belas jam di kawasan jeram Chakarnagar pada musim yang berbeda. Para peternak kambing Jamnapari lebih suka memelihara kambing dalam jumlah kecil karena keterbatasan lahan peternakan mereka. Jumlah populasi kambing Jamnapari maksimal 16 ekor kambing Jamnapari dewasa dengan jumlah anak yang bervariasi. Sebagian kambing Jamnapari dewasa dijual sewaktu-waktu. Umumnya, peternak membuat kandang untuk kambing Jamnapari berupa kandang kecil sederhana berukuran sekitar 4 x 2,5 meter persegi dengan struktur tiang kayu, atap daun lalang, dan dinding kayu semak berduri.

Kadang-kadang struktur kandang ini berupa tanah liat atau bata tergantung status ekonomi peternaknya, dan struktur kandang ini diubah setiap musim agar sesuai dengan cuaca saat itu. Kandang kambing Jamnapari ini dinamakan “bangla”, yang dikelilingi pagar berupa tonggak dan batang kayu serta kayu semak berduri. Kalau sedang tidak mencari pakan hijauan, kambing Jamnapari ditempatkan di kandang terbuka tanpa dipaut atau dipaut pada musim panas, dan peternak mengawasi kambing mereka agar tidak diserang binatang liar.

Pada musim hujan, kambing Jamnapari dipaut di dalam kandang tertutup. Pada musim dingin, kandang kambing Jamnapari ditutup rapat dengan kayu-kayu semak berduri dan lembaran-lembaran rumput untuk melindungi kambing Jamnapari dari udara yang sangat dingin. Peternak juga menghidupkan api agar kandang tetap hangat dan untuk mengusir binatang liar. Anak-anak kambing Jamnapari dikandangkan terpisah dari kambing Jamnapari dewasa. Kambing Jamnapari pejantan ditempatkan di kandang bata dengan pemeliharaan khusus dan biasanya dipaut.

Manajemen Pakan
Kambing Jamnapari mencari pakan hijauan di kawasan jeram Chakarnagar pada siang hari selama 7-12 jam, tergantung musim. Campuran konsentrat dan biji-bijian diberikan di pagi hari sebelum kambing Jamnapari dikeluarkan untuk meramban. Kambing Jamnapari betina yang sedang bunting dan kambing Jamnapari yang dipelihara untuk tujuan kontes diberi pakan khusus yang terdiri dari bajra (Pennisetum americanum), barley, jowar (Sorghum bicolor) dan gandum utuh atau gandum giling. Anak kambing Jamnapari dibiarkan menyusu pada induknya sampai umum tiga bulan. Sebelum menyusui atau diperah, kambing Jamnapari betina diberi bajra rebus atau roti masak. Selain campuran konsentrat, kulit bajra basah atau kering, rajma (sejenis leguminosa) mentah, kairy (Prosopis cinerarea) dan dedaunan pohon juga diberikan kepada kambing Jamnapari.

Pertumbuhan Badan
Kambing Jamnapari betina berbobot sekitar 3 kg saat lahir, 14 kg saat berusia enam bulan, dan 30 kg saat berusia 12 bulan. Anak kambing Jamnapari jantan bobotnya jauh lebih berat. Tingkat pertumbuhannya rata-rata sekitar 1 kg per minggu sampai usia tiga bulan, dan sekitar 1 kg per 10 hari setelah itu. Kambing Jamnapari jantan dapat mencapai bobot sekitar 36 kg pada usia 12 bulan dengan sistem pemberian pakan yang baik.

Produksi Susu
Catatan produksi susu selama 30, 60, 90, dan 120 hari laktasi dilaporkan rata-rata 32, 68, 91, dan 123 kg susu. Kambing Jamnapari dapat menghasilkan 3,6 kg susu per hari dan produksi susu rata-rata per hari 1 kg per hari. Produksi susu terus meningkat sampai akhir jangka waktu laktasi dua bulan dan kemudian mulai menurun selama jangka waktu laktasi rata-rata 260 hari.

Kambing Jamnapari betina beranak kembar biasanya menghasilkan lebih banyak susu daripada kambing Jamnapari betina beranak tunggal. Penelitian komposisi susu menyimpulkan kandungan protein total rata-rata 2,9% (dengan kisaran 2,4 – 3,2) pada awal masa laktasi, 3,2% (dengan kisaran 2,3 – 3,9) pada pertengahan masa laktasi dan 3,8% (dengan kisaran 3,1 – 4,3) pada akhir masa laktasi (Singh dan Singh, 1980a), dengan persentase kasein rata-rata 82% pada awal masa laktasi, 79% pada pertengahan masa laktasi, dan 77% pada akhir masa laktasi. Kasein susu ini mengandung rata-rata 26% alfa-kasein, 61% beta-kasein dan 13% gama-kasein (Singh dan Singh 1980b).

Reproduksi
Tingkat kebuntingan kambing Jamnapari relatif tinggi, yaitu 88%, jumlah rata-rata anak sekelahiran 1,6 ekor, kemungkinan kelahiran kembar 52%, dan kelahiran kembar tiga dan kembar empat sering terjadi. Usia kebuntingan pertama kambing Jamnapari sekitar 18 bulan, melahirkan pertama pada usia 23 bulan, dan jarak waktu antar-kelahiran sekitar 11 bulan.

Kriteria Seleksi Pejantan
Pemilihan kambing Jamnapari jantan untuk tujuan pembiakan oleh peternak didasarkan pada kriteria tertentu yang sangat ketat dan menggunakan pengetahuan dan pengalaman mereka secara cermat. Silsilah kambing Jamnapari jantan merupakan faktor pertimbangan penting sebelum pembelian dilakukan. Warna badan kambing Jamnapari jantan harus putih sempurna dan tidak boleh ada toleransi dalam hal ini. Kambing Jamnapari jantan harus keturunan dari kambing Jamnapari betina dengan produksi susu tinggi dan sudah tua. Kambing Jamnapari jantan keturunan kambing Jamnapari betina yang baru sekali atau dua kali melahirkan tidak akan dipertimbangkan untuk dijadikan pejantan.

Tanduk kambing Jamnapari jantan tidak boleh lurus tapi melengkung ke atas; kambing Jamnapari jantan yang tanduknya melengkung ke bawah tidak akan dijadikan pejantan. Testes kambing Jamnapari jantan harus bulat dan kecil. Bulu badan kambing Jamnapari jantan harus pendek dan mengkilap, tapi bulu pada bagiah paha dan kaki belakang harus panjang. Tidak boleh ada warna hitam pada hidung atau kepala. Wajah kambing Jamnapari jantan harus jelas cembung dan berhidung Romawi (mancung). Kambing Jamnapari jantan harus berjanggut.

Permasalahan
Para peternak menghadapi banyak masalah dalam memelihara kambing Jamnapari. Pertumbuhan tumbuhan semak bilati babool (Prosopis juliflora) yang tidak seimbang sebagai sumber pakan rambanan mungkin berperan menyebabkan penurunan produksi kambing Jamnapari hingga 50%. Masalah lainnya adalah kurangnya bantuan petugas peternakan, jarangnya pembelian kambing baru, gangguan oleh polisi dan departemen kehutanan, kurangnya pekerja, serangan binatang liar, dan kurangnya pakan hijauan pada musim tertentu.

Penerjemah Inggris-Indonesia:
Hipyan

Sumber:
Dairy Goat Journal (Jurnal Kambing Perah)
http://www.dairygoatjournal.com/issues/82/82-3/PK_Rout.html

Wageningen Universiteit, The Netherland (Universitas Wageningen, Belanda)
http://library.wur.nl/wda/dissertations/dis3931.pdf

No comments:

Post a Comment