Showing posts with label Pelajaran. Show all posts
Showing posts with label Pelajaran. Show all posts

Thursday, 17 January 2013

Pengaruh Perkembangan Agama dan Kebudayaan Hindu, Budha di Indonesia Lengkap


Standar Kompotensi :
Menganalisa perjalanan bangsa Indonesia pada masa negara-negara tradisional
Kompotensi Dasar :
Menganalisis pengaruh perkembangan agama dan kebudayaan Hindu-Budha terhadap
masyarakat di berbagai daerah di Indonesia
Setelah mempelajari modul ini Anda diharapkan dapat :
1. Menjelaskan proses masuknya agama Hindu-Budha ke Indonesia
2. Menguraikan wujud akulturasi kebudayaan Hindu – Budha dengan kebudayaan Indonesia.


A. Teori Tentang Masuk dan Menyebarnya Hindu-Budha ke Kepulauan Indonesia
1. Teori BRAHMANA (J.C VAN LEUR)Teori ini menyatakan bahwa yang berperan dalam proses masuknya kebudayaan Hindu Budha ke Indonesia adalah Kaum Brahmana dengan alasan para Brahmana datang ke Indonesia atas undangan para bangsa India yang ada di Indonesia untukmenyebarkan dan  mengajarkan agama Hindu karena hanya kaum Brahmana yang dapat membaca kitab weda dan berwewenang tinggi untuk menyebarkan agama Hindu.
2. Teori KSATRIA (F.D.K. BOSCH)Teori ini beranggapan bahwa, di Indonesia telah terjadi kolonisasi oleh orang India yang kemudian daerah koloni tersebut menjadi pusat penyebaran budaya India sehingga timbul gambaran bahwa orang-orang Indialah sebagai golongan penguasa Indonesia dengan demikian yang berperan dalam proses masuknya kebudayaan HINDU-BUDHA adalah golongan prajurit atau kaum ksatria.
3. Teori WAISYA (N.J.KROM)Teori ini menyatakan bahwa kaum pedagang dari India yang tergolong dalam kasta Waisya selain berdagang juga membawa adat kebiasaan misalnya upacara keagamaan. Pada umumnya mereka tinggal menetap di Nusantara dan selain itu kemungkinan juga terjadi adanya perkawinan antara para pedagang dengan wanita Indonesia, hal ini dianggap sebagai saluran penyebaran pengaruh yang penting dalam teori ini.
4.Teori SUDRAMenyatakan bahwa agama Hindu-Budha masuk ke Indonesia melalui Kasta Sudra. Mereka datang ke Indonesia ingin merubah hidupnya karena mereka di India hanya dijadikan sebagai budak.
5. Teori ARUS BALIKMenyatakan bahwa orang Indonesia pergi ke India untuk belajar agama Hindu dan kemudian kembali lagi ke Indonsia untuk menyebarkan agama tersebut.
6. Teori GABUNGAN
Para kaum Brahmana, ksatria, Waisya, dan Sudra berkumpul dalam satu kapal untuk  mencari daerah koloni yang dijadikan kekuasaan dan menyebarkan agama Hindu.
B. Interaksi Masyarakat Di Berbagai Daerah Dengan Tradisi Hindu-Budha.
Secara geografis Indonesia terletak dilintas jalur perdagangan internasional melalui jalur laut yaitu India-Indonesia-Cina dan seterusnya karena adanya hubungan dagang antara Indonesia dan India mengakibatkan masuknya pengaruh budaya India ke Indonesia, baik pengaruh Hindu maupun Budha. Oleh karena itu pusat-pusat peradaban Hindu-Budha banyak ditemukan di wilayah Indonesia yang menjadi bagian dari jalur perdagangan kuno antara Cina dan India.
Pada awalnya jalur perdagangan antara India dan Cina melewati Selat Malaka namun ada juga di antara mereka yang menyusuri sepanjang pantai Pulau Sumatra, Pantai Utara Jawa, pantai Timur Kalimantan dan terus ke Cina. Kawasan yang dilalui jalur perdagangan internasional seperti Sumatera, Jawa, Bali dan sebagian Kalimantan mempunyai kegiatan perdagangan yang ramai sehingga mengakibatkan kebudayaan Hindu-Budha yang tumbuh dengan subur kawasan tersebut.
Agama Budha diperkirakan masuk ke Indonesia sejak abad kedua masehi dengan bukti ditemukannya patung dari perunggu di daerah Simpang Sulawesi Selatan, di Jember Jawa Timur dan di Bukit Siguntang Sumatera Selatan. Ajaran agama Budha yag masuk ke Indonesia adalah aliran Mahayana yang berkembang pada masa Kerajaan Sriwijaya dan Mataram pada masa Dinasti Syailendra akan tetapi dalam perkembangannya terjadi percampuran antara agama Hindu dan Budha, khususnya di Jawa Timur tetapi ada pendapat yang mengatakan bahwa unsur budaya lama masih dominan dalam semua lapisan masyarakat.
C.Perkembangan Kerajaan Hindu-Budha di Indonesia.
1. Kerajaan Kutai
Kerajaa ini merupakan kerajaan Hindu tertua di Indonesia yang terletak di Muarakaman, tepi sungai Mahakam, Kalimantan Timur.
Sumber-sumber sejarah
a) Berita Cina dari Dinasti Tang (618-908 M)
b) Arca Budha berlanggam seni arca Gandhara di Kota Bangun (Kutai)
c) Arca kehidupan, seperti arca Ganesha di Serawak
ganesha
Arca Ganesha
d) Prasasti-prasasti
Tujuh buah prasasti yang disebut dengan Yupa yang berbentuk tiang yang dipergunakan untuk mengikat hewan korban yang diparsembahkan oleh rakyat Kutai kepada para dewa yang dipujanya. Prasasti ini menggunakan huruf Pallawa dan berbahasa Sansekerta. Isi prasasti tersebut antara lain adalah silsilah raja yang mengatakan bahwa Maharaja Kudungga mempunyai seorang putra bernama Aswawarman yang disamakan dengan Dewa Ansuma (Dewa Matahari). Aswawarman mempunyai tiga putra, salah seorang yang terkemuka adalah Mulawarman.
yupa                                                                               Yupa
PolitikRaja pertama Kerajaan Kutai adalah Raja Kudungga. Dengan masuknya pengaruh Hindu di wilayahnya, Kudungga kemudian mengubah struktur pemerintahannya menjadi pemerintahan kerajaan dan di perintah oleh seorang raja.
Setelah Raja Kudungga mangkat, pemerintahan digantikan oleh putranya yang bernama Aswawarman. Kerajaan Kutai mengalami masa Kejayaan pada saat pemerintahan berada pada tangan Raja Mulawarman yang tak lain adalah putra dari Raja Aswawarwan. Raja Mulawarman adalah raja yang bijaksana, kuat, dan berkuasa. Selain itu dia juga dapat menjalin hubungan yang baik dengan kaumBrahmana, dengan bukti Raja Mulawarman yang memberikan sedekah 20.000 ekor sapi kepada para Brahmana.
SosialBerdasarkan prasasti Yupa di Kutai telah berkembang masyarakat yang memiliki kebudayaan hasil perpaduan antara unsur budaya India dan budaya lokal. Hal ini dapat dilihat dari golongan masyarakat yang menguasai bahasa Sanskerta dan dapat menulis huruf Pallawa, yaitu golongan Brahmana.
Golongan lainnya adalah golongan Ksatria yang terdiri dari kerabat Raja Mulawarma. Selain ke dua golongan tersebut terdapat juga golongan lain yang pada umumnya adalah rakyat Kutai purba yang masih memegang teguh agama asli leluhur mereka.
Agama yang dianut oleh Raja Mulawarman adalah agama Hindu aliran Syiwa, yang dapat diketahui dari salah satu prasasti Yupa yang menyebutkan tempat dalam tanah yang sangat suci yang di beri nama Waprakeswara (tempat suci untuk memuja Dewa Syiwa). Tempat ini selalu berhubungan dengan tiga dewa utama yaitu Brahmana, Wisnu, dan Siwa.
EkonomiKehidupan ekonomi Kerajaan Kutai diperkirakan sudah maju. Dengan bukti adanya kesanggupan pihak kerajaan memberikan sedekah berupa 20.000 ekor sapi kepada para Brahmana. Hal itu dapat juga menunjukkan bahwa mata pencaharian sebagian masyarakat Kutai adalah berternak, serta mengingat letak Kutai yang berada ditepi sungai Mahakam yang subur, masyarakat juga mempunyai kegiatan perdagangan dan pertanian.
2. Kerajaan Tarumanegara
Keajaan Hindu tertua kedua adalah Kerajaan Tarumanegara yang terletak di lembah sungai Citarum, Jawa Barat.
Sumber-sumber sejarah
1. Prasasti-prasasti Tarumanegara
Prasasti peninggalan Kerajaan Tarumanegara ditulis dengan menggunakan huruf pallawa dan berbahasa sanskerta, yaitu :
 Prasasti Ciaruteun (Citarum)Ditemukan di tepi sungai Ciaruteun, Bogor. Pada prasasti ini hurufnya terdiri dari empat baris berbentuk puisi India dan juga terdapat lukisan laba-laba dan tapak kaki. Sebagian besar masyarakat meyakini bahwa tapak itu sebagai tapak kaki Raja Purnawarman yang merupakan penjelmaan kaki Dewa Wisnu.
 Prasasti Kebun Kopi
Ditemukan di daerah perkebunan kopi, Kampung Muara Hilir, Cibungbulang, Bogor. Pada prasasti ini terdapat tapak kaki gajah yang disamakan dengan tapak kaki Gajah Airwata yang merupakan kendaraan Dewa Wisnu
 Prasasti Jambu (Koleangkak)
Ditemukan di bukit Koleangkak di daerah perkebunan jambu, sebelah barat Bogor.
 Prasasti Tugu
Prasasti Tugu ditemukan di desa Tugu, Cilincing, Jakarta. Prasasti ini merupakan prasasti terpanjang dari semua peninggalan prasasti Purnawarman.prasasti tugu                                                                      Prasasti Tugu
 Prasasti Cidanghiang,
Ditemukan di tepi sungai Cidanghiang, Kecamatan Munjul, Banten Selatan. Isi prasasti ini menyebutkan bahwa Raja Purnawarman adalah seorang raja yang agung, pemberani, dan perwira
 Prasasti Pasir Awi,
Ditemukan di Pasir Awi, Bogor. Yang memuat tapak kaki namun prasasti ini belum bisa dibaca.
 Prasasti Muara Cianten,
Ditemukan di Muara Cianten, Bogor, namun prasasti mengunakan huruf ikal yang belum bisa di baca.
2. Arca-arca peninggalan Kerajaan Tarumanegara
Arca yang ditemukan diantaranya adalah Arca Rajasi, yang berasal dari Jakarta, dua buah patung Wisnu dan Cibuana.
3. Berita Cina
Antara lain adalah Catatan I-tsing (abad ke-7 M), berita dari Dinasti Soul, berita dari Dinasti Tang, dan berita dari Fa-hsien.
PolitikKerajaan Tarumanegara telah menjalin hubungan baik dengan negara-negara lain hal ini dapat dilihat dari berita cina yang menyebutkan bahwa Kerajaan Tarumanegara telah mengirimkan utusan ke negeri Cina. Kemajuan India di bidang pemikiran agama menyebabkan unsur-unsur budaya India di ambil aliholeh Kerajaan Tarumanegara, namun tindakan ini berhasil karena masyarakat Tarumanegara mempunyai potensi yang sepadan dengan budaya India.
Sosial
Raja yang pernah memerintah di Kerajaan Tarumanegara adalah Raja Purnawarman, dia adalah raja besar yang telah memerintah dan meningkatkan kehidupan rakyatnya Hal itu dapat dilihat dari prasasti Tugu yang menyebutkan bahwa Raja Purnawarman telah memerintah penggalian Sungai Gomatti untuk mencegah terjadinya banjir dan pemberian sedekah berupa 1000 ekor sapi kepada para Brahmana.
Berdasarkan isi dari beberapa prasasti diperoleh gambaran bahwa Raja Purnawarman menganut agama Hindu aliran Wisnu, namun rakyat Tarumanegara masih sedikit yang memeluk agama Hindu-Budha karena menurut kesaksian Fa-Hsien rakyat Tarumanegara menganut agama Budha serta kepercayaan Animisme dan Dinamisme.
EkonomiDilihat dari beberapa sumber-sumber prasasti dan berita asing terlihat bahwa mata pencaharian penduduk Tarumanegara adalah beternak, berdagang, berburu, dan berlayar. Berdasarkan prasasti Tugu dapat di perkirakan bahwa mata pencaharian masyarakat Tarumanegara adalah bertani, karena dalam prasasti disebutkan tentang adanya usaha untuk menggali sungai Gomatti dengan tujuan untuk menanggulangi banjir dan mengairi sawah-sawah disekitarnya.
3. Kerajaan Kalingga
Kerajaan Kalingga atau Kerajaan Holing terletak di Salatiga, Jawa Tengah. Kerajaan Kalingga diperkirakan berkembang sekitar abad ke-7 sampai abad ke-9 M.
Sumber-sumber sejarah
a. Berita Cina dari Dinasti Tang yang menyebutkan adanya Kerajaan Kalingga yang berlokasi di Cho-po (Jawa).
b. Berita dari I-Tsing, seorang pendeta Budha dari Cina.
c. Prasasti Tuk Mas yang ditemukan di Desa Tuk Mas, dilereng Gunung Merbabu.
Politik
Berdasarkan berita dari Cina dapat diketahui bahwa Kerajaan Kalingga diperintah oleh seorang raja perempuan bernama Ratu Sima pemerintahannya sangat keras namun adil dan bijaksana sehingga pada saat pemerintahannya Kerajaan Kalingga mengalami kemajuan yang pesat.
SosialPada masa kerajaan Kalingga pembangunan sudah mulai digalakkan misalnya saja pembangunan benteng-benteng kayu dan rumah-rumah yang beratap daun kelapa. Karena pemerintahan Ratu Sima yang yang adil dan bijaksana maka masyarakat Kalinggapun dapat tertata rapi.
Melalui prasasti dan berita dari Cina dapat diketahui bahwa rakyat Kalingga banyak yang menganut agama Hindu dengan bukti adanya prasasti Tuk Mas yang melukiskan gambar Trisula, kapak, kendi, cakra yang melambangkan dewa agama Hindu.
EkonomiMasyarakat telah mengenal hubungan dagang dan telah terbentuk pasar. Di pasar itu mereka melakukan hubungan dagang yang teratur.
4. Kerajaan Mataram KunoKerajaan ini terletak di lereng gunung Wukir dekat Muntilan, Magelang Jawa Tengah.
Sumber-sumber Sejarah
a. Prasasti Canggal yang dibuat pada masa pemerintahan Raja Sanjaya yang berkaitan dengan pembuatan sebuah lingga (lambang dari Dewa Siwa)
b. Prasasti Balitung yang dikeluarkan oleh Raja Diah Balitung.
c. Kitab Cerita Parahyangan yang menceritakan tentang ikhwal raja-raja dari Dinasti Syailendra.
Politik
1. Raja Sanjaya
Prasasti Canggal menyebutkan tentang pendirian sebuah lingga di bukit Sthirangga, oleh Raja Sanjaya. Menurut prasasti ini Jawa Dwipa yang kaya akan padi dan emas mula-mula diperintah oleh Raja Sanna, setelah Raja Sanna meninggal ia digantikan oleh Sanjaya anak dari saudara perempuan Raja Sanna yang bernama Sannaha. Sanjaya berhasil menaklukkan daerah sekitar dan mampu mewujudkan kemakmuran bagi rakyatnya.
Pada masa pemerintahan Rakai Panangkaran, diduga muncul Dinasti Syailendra yang beragama budha dan diperkirakan berhasil menggeser kedudukan Dinasti Sanjaya sehingga Dinasti Sanjaya mengalihkan pemerintahannya ke Jawa Tengah bagian Utara.
klp candi dieng                             Kelompok Candi Dieng bukti pergeseran pemerintahan Syailendra
2. Dinasti Syailendra
Pada pertengahan abad ke-8, di Jawa Tengah terdapat beberapa prasasti yang berasal dari Dinasti Syailendra yang telah membuka tabir tentang asal usul Dinasti Syailendra. Prasasti ini menyebutkan tentang nama seorang pejabat tinggi yang bernama Dapunta Syailendra, sehingga dapat disimpulkan bahwa Dinasti Syailendra berasal dari Jawa Tengah.
Secara politis, Dinasti Syailendra tidak memberikan pengaruh yang besar bagi perkembangan sejarah, tetapi meninggalkan karya seni bangun yang banyak dan indah, misalnya : Candi Borobudur, Candi Kalasan, Candi Sewu, dan Candi Mendut.
borobudur kalasan mendut
           candi Borobudur                        candi Kalasan                                candi Mendut
Dinasti Syailendra mengalami penyatuan dengan Dinasti Sanjaya karena adanya perkawinan politik antara Pramodhawardhani, anak dari Raja Samaratungga dari Dinasti Syailendra dengan Rakai Pikatan dari Dinasti Sanjaya. Namun setelah Raja Samaratungga wafat terjadi perebutan kekuasaan antara Rakai Pikatan dengan Balaputradewa. Balaputradewa akhirnya terdesak dan pergi ke Sriwijaya dan menjadi raja di sana. Akhirnya pemerintahan
kembali ke tangan Dinasti Sanjaya.
Pernikahan antara Rakai Pikatan dengan Pramodhawardhani ternyata dapat menyatukan pemerintahan. Dipihak lain berkat kecakapan dan keuletan Rakai Pikatan kebudayaan Hindu dapat di hidupkan kembali. Rakai Pikatan wafat ketika pembangunan Candi Prambanan yang ia rencanakan belum terselesaikan. Diantara raja-raja yang memerintah di Jawa Tengah, Raja Balitunglah yang paling dikenal karena pada masa pemerintahannya keadaan di Jawa Tengah sangat aman dan tertib.
3. Pemindahan Kekuasaan ke Jawa Timur
Gejala untuk memindahkan pusat pemeintahan ke daerah Jawa Timur mulai tampak sejak Raja Tulodhong memerintah yakni pada tahun 919-927 M dengan berdasarkan pertimbangan ekonomi sebagai berikut :
a) Adanya sungai-sungai besar yang memudahkan bagi lalu lintas perdagangan.
b) Adanya dataran rendah yang luas sehingga memungkinkan untuk menanam padi secara besar-besaran.
c) Lokasi Jawa Timur berdekatan dengan jalur perdagangan utama waktu itu.
Sejak terjadi perpindahan pusat pemerintahan, Mataram diperintah oleh raja-raja keturunan Dinasti Isana. Pengganti Empu Sindok adalah putrinya yang bernama Sri Isanatunggawijaya yang kemudian menikah dengan Lokapala dan melahirkan Makutawangsawardhana yang kemudian menggantikan ibunya sebagi raja di Medang. Yang kemudian di gantikan oleh Dharmawangsa Teguh Ananta Wikramatunggadewa.
Berdasarkan berita dari Cina Raja Dharmawangsa melakukan serangan terhadap kerajaan Sriwijaya untuk menguasai jalur lalu lintas perdagangan antara Cina dan India di perairan Nusantara yang dikuasai oleh Sriwijaya.
Pada tahun 1016 Kerajaan Dharmawangsa diperkiraka mengalami keruntuhan akibat serangan Kerajaan Wurawari karena didukung oleh Kerajaan Sriwijaya sebagai wujud balas dendam terhadap Dharmawangsa.
Sosial
Sumber dari berbagai prasasti menyebutkan adanya stratifikasi atau pelapisan sosial berdasarkan pembagian kasta dan kedudukan seseorang di dalam masyarakat. Hubungan antara raja dan rakyat secara langsung sulit terlaksana, sedangkan hubungan antara raja dan para pejabat tinggi kerajan hanya terjadi secara formal. Jika diperhatikan nama-nama penduduk desa di dalam berbagai prasasti, tampak bahwa sebagian besar di antara mereka itu memakai nama Indonesia asli, hanya sebagian kecil saja penduduk desa memakai nama dari bahasa sanskerta, hal itu menunjukkan bahwa pengaruh budaya India tidak terbatas pada golongan elite di pusat dan daerah, tetapi ada juga penduduk desa yang dapat mengenyam pendidikan membaca kitab-kitab suci dan menulis.
EkonomiMasalah perekonomian mendapat perhatian besar pada zaman Balitung. Misalnya dalam Prasasti Purworejo menyebutkan tentang pendirian suatu pusat perdagangan. Raja Tulodhong juga sangat memperhatikan masalah ekonomi, buktinya dapat dilihat dari Prasasti Sukabumi yang menyebutkan tentang waduk untuk mengatur air sungai Harinjing. Waduk itu dibuat untuk kepentingan irigasi sawah dan mencegah terjadinya banjir.
5. Kerajaan Sriwijaya
Berdasarkan penemuan prasasti, letak Kerajaan Sriwijaya di tepi Sungai Musi, kota Palembang, Sumatera.
Sumber-sumber Sejarah
 Prasasti Kedukan Bukit di tepi Sungai Tatang, Palembang.
 Prasasti Talang Tuwo, ditemukan di desa Gandus, sebelah barat kota Palembang.
 Prasasti Kota Kapur, ditemukan di Pulau Bangka.
 Prasasti Telaga Batu berbentuk batu lempeng mendekati segi lima tidak berangka tahun.
 Prasasti Karang Brahi, ditemukan didaerah Jambi.
 Prasasti Ligor, ditemukan di Tanah Genting Kra daerah Ligor.
 Berita dari Cina, India dan Arab serta benda purbakala.
kedukan bukit                                                                 Prasasti Kedukan Bukit
Politik
Kerajaan Sriwijaya mencapai zaman keemasan pada abad ke-8 dan ke-9 ketika diperintah oleh Raja Balaputradewa.
1) Faktor-faktor pendorong perkembangan Kerajaan Sriwijaya
a) Keberhasilan Kerajaan Sriwijaya menguasai perairan yang strategis.
b) Semakin pesatnya perkembangan perdagangan yang dilakkan India dan Cina melalui Selat Malaka membuat posisi Sriwijaya semakin penting
c) Keruntuhan Kerajaan Fu-Nan sehingga kerajaan Fu-Nan di Asia Tenggara digantikan oleh Sriwijaya.
2) Faktor-faktor penyebab kemunduran Kerajaan Sriwijaya
a) Adanya serangan dari Jawa atas pimpinan Dharmawangsa
b) Adanya serangan dari Kerajaan Chola
c) Mundurnya perekonomian dan perdagangan Sriwijaya karena bandarbandar penting melepaskan diri dari Sriwijaya
d) Adanya serangan dari Kerajaan Majapahit
e) Muncunya kerajaan Samudra Pasai yang mengambil alih pengaruh Sriwijaya.
SosialBerdasarkan berita dari Cina diperkirakan bahwa Kerajaan Sriwijaya telah dikenal sebagai pusat pendidikan agama Budha Mahayana. I-tsing menerangkan bahwa pendeta-pendeta Cina datang ke Sriwijaya untuk belajar bahasa Sanskerta dan menyalin kitab-kitab agama Budha. Tingginya kedudukan Sriwijaya sebagai pusat perkembangan agama Budha terlihat dari datangnya pendeta Tantris yang bernama Wajrabodhi.
Ekonomi
Ramainya kegatan perdagangan India dengan Cina melalui Selat Malaka sangat menguntungkan Sriwijaya. Para pedagang dari kedua bangsa tersebut singgah di pelabuhan milik Sriwijaya, selain membayar bea masuk mereka juga melakukan transaksi jual beli dengan pedagang Sriwijaya.
6. Kerajaan Kahuripan
Kerajaan ini terletak di Muara Sungai Brantas, Jawa Timur.
PolitikMenurut prasasti Calcuta, Airlangga adalah putra Udayana dengan putri Mahendradatta. Pada tahun 1016 Airlangga datang ke Jawa untuk melangsungkan perkawinannya dengan putri Dharmawangsa, namun pada saat itu Kerajaan Dharmawangsa diserang oleh Kerajaan Wurawari. Pada tahun 1041 Airlangga mengundurkan diri sebagai raja, kemudian atas saran Empu Bharada kerajaan dibagi menjadi dua yaitu Janggala dan Panjalu. Pada tahun 1049 Airlangga wafat dan di makamkan di Tirtha (Candi Belahan) yang diwujudkan dalam bentuk arca Wisnu yang sedang menaiki Garuda.
200px-Airlangga                                                           Arca Airlangga menaiki Garuda
Sepeninggalnya Airlangga, terjadi perebutan kekuasaan antara kerajaan Jenggala dan Panjalu namun Raja Mapanji Alanjung Ahyes dari Panjalu berhasil menaklukkan Jenggala, namun pemerintahannya tidak lama karena muncul seorang raja lain, yaitu Samarotsaha. Setelah pemerintahannya kedua kerajaan itu tidak ada kabar beritanya dalam waktu lama. Setelah itu Kerajaan Kediri atau Panjalu muncul pada tahun 1116.
Ekonomi
Raja Airlangga sangat memperhatikan bidang pertanian. Dalam prasasti Kelagen disebutkan tentang pembuatan sebuah waduk atas perintah Airlangga di Wringin Sapta untuk mengatur aliran Sungai Brantas dan juga menyebutkan tentang kapal-kapal dagang yang dapat berlayar meyusuri sungai Brantas sampai di pelabuhan Hujung Galuh berkat adanya Waduk Wringin Sapta tersebut.
7. Kerajaan Kediri
Politik
Raja-raja yang pernah memerintah Kerajaan Kediri adalah sebagai berikut :
1. Raja Jayawarsa
2. Rakai Sirikan Sri Bameswara
3. Raja Jayabaya
4. Raja Sarweswara
5. Sri Aryyeswara
6. Sri Gandra
7. Kameswara
8. Kertajaya
Pada masa pemerintahan Kameswara, seni sastra berkembang pesat, hal ini dikarenakan :
 Adanya pujangga-pujangga yang pandai
 Adanya perlindungan terhadap para pujangga
 Penghormatan kepada raja melalui hasil sastra
 Adanya kebebasan berpikir dalam mengembangkan kesusastraan
Pengganti Kameswara adalah Raja Kertajaya yang kemudian dikalahkan oleh Ken Arok dari Singosari dalam perang di Pujon, Malang.
Ekonomi
Kediri merupakan negara yang agraris dan maritim. Masyarakat yang hidup di daerah pedalaman bermata pencaharian sebagai petani dengan hasil yang melimpah karena di dukung dengan kondisi tanah yang subur sehingga memberikan kemakmuran bagi rakyat.
Sosial
Kondisi masyarakat Kediri sudah teratur, penduduknya sudah memakai kain sampai bawah lutut, rumahnya bersih dan rapi serta berlantai. Hukum yang berlaku adalah sistem denda dengan membayar emas bagi yang bersalah, tetapi pencuri dan perampok dihukum mati. Rakyat membayar denda dengan hasil bumi.
8. Kerajaan SingosariKerajaan Singosari didirikan oleh Ken Arok yang kemudian ia wafat pada tahun 1227 karena dibunuh oleh seseorang atas perintah Anusapati yang kemudian dicandikan di daerah Kagenengan dalam bentuk perpaduan Syiwa Budha. Setelah berhasil membunuh Ken Arok, Anusapati naik tahta namun lambat laut pembunuhan itu terdengar sampai pada Panji Tohjaya yang kemudian membalas kematian ayahnya dengan cara membunuh Anusapati, keberhasilan itu membuat Tohjaya naik tahta sebagai raja.
Pemerintahannya hanya berlangsung tidak lama karena pada tahun itu terjadi pemberontakan oleh Ranggawuni dan Mahisa Cempaka yang menyebabkan Tohjaya mengungsi dan pemerintahan berada pada tangan Ranggawuni. Pada tahun 1254 ia mengangkat anaknya Kertanegara sebagai putra mahkota yang kemudian ia wafat pada tahun 1268.
candi kidal                                          Candi Kidal (tempat jenazah Anusapati dicandikan)
Didalam politik pemerintahan, Kertanegara membagi menjadi dua macam, yaitu :
a. Politik dalam negeri
Ditujukan untuk melancarkan dan menstabilkan pemerintahan. Untuk mencapai tujuan itu, Kertanegara melakukan berbagai tindakan, antara lain :
1. Memecat Mahapatih Raganatha karena dipandang kurang mendukung gagasan raja dan menggantikannya dengan Kebo Tengah
2. Mengangkat Banyak Wide sebagai Bupati Sumenep
3. Mengangkat Jayakatwang sebagai raja kecil di Kediri untuk menghindari perselisihan
4. Mengambil Arharaja dan Raden Wijaya sebagai menantu
5. Memperkuat angkatan perang
6. Menumpas pemberontakan Bhayaraja dan Mahesa Rengkah
7. Mengangkat seorang kepala agama Budha dan Brahmana
b. Politik luar negeri
Tujuan Kertanegara dalam politik luar negerinya adalah :
1. Mempersatukan seluruh Nusantara yang dipimpin Kerajaan Singosari
2. Mengurangi pengaruh dari dua keajaan besar yang merupakan lawan-lawan politik Ketanegara, yaitu Sriwijaya dan Cina Mongol
Kematian Kertanegara mengakibatkan Singosari dikuasai oleh Jayakatwang. Sesuai dengan agamanya, Kertanegara didarmakan (dimakamkan) di Candi Jawi sebagai Siwa-Budha, sebagai Wairocana-locana di Segala, dan Bairawa di Candi Singosari.
9. Kerajaan Majapahit
Lokasi Kerajaan ini adalah di Trowulan Mojokerto. Dalam sejarah Indonesia, periode Majapahit merupakan periode yang paling mengesankan karena periode ini di Nusantara terdapat suatu kerajaan besar yang disegani oleh mancanegara dan membawa keharuman nama Indonesia sampai jauh ke luar wilayah Indonesia.
Sumber Sejarah
 Prasasti Gunung Butak, Brumbung, Kudadu, Gajah Mada, dan Jiu.
 Kitab Negarakertagama yang menceritakan tentang perjalanan Hayam Wuruk ke Jawa Timur
 Kitab Pararaton yang menceritakan tentang pemerintahan raja Singosari dan Majapahit
 Kidung Harsawijaya dan Kidung Panji Wijayakrama
Politik
Setelah Kerajaan Singosari runtuh, Raden Wijaya berhasil menyelamtakan diri dari kejaran pasukan Kediri. Atas nasihat Arya Wiraraja, Raden Wijaya menyerahkan diri kepada Jayakatwang dan menghamba kepadanya. Setelahnya Raden Wijaya kemudian menghimpun orang-orang Tumapel dan Madura menjadi pasukan untuk bersiap-siap merebut kembali kekuasaan yang ada di tangan Jayakatwang, setelah selesai datanglah bala
tentara dari Cina-Mongol atas perintah Kubilai Khan untuk menghukum Kertanegara yang telah menghina utusannya, namun mereka belum mengetahui bahwa Kertanegara sudah meninggal. Akan tetapi mereka tidak percaya dan kemudian menyerbu Jayakatwang. Maka kesempatan ini di ambil oleh Raden Wijaya untuk membalas dendam kepada Jayakatwang.
Dalam pertempuran itu tentara Kediri dapat dengan mudah ditaklukkan, Jayakatwang pun tertangkap dan dibunuh. Pada waktu tentara Tartar hendak kembali ke pelabuhan, Raden Wijaya kembali menyerang.
Dan setelah berhasil Raden Wijaya dinobatkan sebagai Raja Majapahit.
1. Masa Pemerintahan Kertarajasa Jayawardhana (1293-1309)
Menurut Prasasti Gunung Butak dan Kitab Pararaton, Raden Wijaya memperistri anak Kertanegara, yaitu :
 Dyah Dewi Tribhuwaneswari;
 Dyah Dewi Narendraduhita;
 Dyah Dewi Prajnaparamita Jayendradewi;
 Dyah Dewi Gayatri.
Akan tetapi perkawinan itu lebih berlatar belakang agar tidak terjadi perebutan kekuasaan di dalam anggota keturunan Kertanegara. Pada masa pemerintahannya, Raden Wijaya lebih mengutamakan konsolidasi kekuatan dalam kerajaan. Pada tahun 1309, Raden Wijaya wafat dan dimakamkan di Candi Simping sebagai Syiwa, dan di Artahpura sebagai Dhyani Budha. Arca perwujudannya berbentuk Harihara (Arca perwujudan Wisnu dan Syiwa dalam satu Arca).
2. Masa Pemerintahan Jayanegara (1309-1328 M)Pemberontakan yang penting yang pernah terjadi salah satunya adalah pembarontakan Kuti yang hampir membawa keruntuhan bagi Majapahit karena berhasil menduduki ibukota Majapahit.
Jayanegara terpaksa melarikan diri ke desa Badader dan hanya diikuti oleh sejumlah pasukan dengan pimpinan Gajah Mada. Berkat kecakapan Gajah Mada, pemberontakan akhirnya dapat ditumpas. Pada tahun 1328 M, Jayanegara meninggal karena dibunuh oleh tabib kerajaan yang bernama Tanca, yang kemudian Tanca di bunuh oleh Gajah Mada.
3. Masa pemerintahan Tribuwana Tungga DewiPada masa pemerintahannya telah teerjadi pemberontakan yang dipimpin oleh Sadeng dan Keta pada tahun 1331. Akhirnya menteri pelaksana yang pada waktu itu dalam keadaan sakit meminta bantuan kepada Gajah Mada. Setelah pemberontakan dapat dipadamkan, Gajah Mada diangkat menjadi Patih Mangkubumi Majapahit dan mengungkapkan Sumpah Tan Amukti Palapa. Pada tahun 1350 Tribhuwana mengundurkan diri sebagai raja Karena ibunya meninggal, selanjutnya tahta kerajaan diserahkan kepada putranya, Hayam Wuruk.
4. Masa Pemerintahan Hayam Wuruk.
Pada masa pemerintahannya Majapahit mengalami masa keemasan. Sebagai raja ia berpandang luas dan tajam serta memberikan kebebasan sepenuhnya kepada Gajah Mada untuk menjalankan pemerintahan karena ia mengetahui kecakapan yang dimiliki oleh Gajah  Mada dan mempunyai cita-cita yang sama yaitu untuk mempersatukan Nusantara.
Pada tahun 1357 Raja Hayam Wuruk bermaksud meminang putri Sri Baduga yang bernama Dyah Pitaloka. Lamaran itu diterima, bahkan Sri Baduga sendiri yang mengantarnya. Sesampai di Majapahit Raja Pajajaran dan rombongannya berkemah di Bubat menanti Hayam Wuruk. Namun Gajah Mada menghendaki agar Dyah Pitaloka sendiri yang diantar oleh Raja Pajajaran sebagai tanda tanduk kerajaan Sunda.
Maksud ini ditolak oleh Sri Baduga dan terjadilah pertempuran yang akhirnya Sri Baduga terbunuh dan Dyah Pitaloka bunuh diri, peristiwa ini disebut dengan perang bubat.
Setelah Gajah Mada wafat, Gajah Mungkuri diangkat sebagai pimpinan tunggal eksekutif kerajaan. Setelahnya Hayam Wuruk meninggal dan di makamkan di Candi Ngetos, Nganjuk.
5. Kemunduran Kerajaan Majapahit
Sebab-sebab kemuduran Kerajaan Majapahit dikarenakan oleh :
a. Terjadinya perang saudara yaitu perang Paregreg
b. Tidak ada pembentukan kader kepemimpinan
c. Banyak kerajaan bawahan yang melepaskan diri dan menjadi negara bebas
d. Masuk dan berkembangnya agama Islam di Jawa Timur
e. Kemunduran di bidang perdagangan karena Majapahit tidak mampu melindungi pusat-pusat perdagangan.
SosialTata masyarakat berdasarkan Hinduisme yaitu pembagian anggota masyarakat kedalam empat kasta. Sistem perundang-undangan yang mengatur hukum sudah ada dan orang yang terbukti bersalah melakukan kejahatan harus dikenakan pidana mati.
EkonomiBerdasarkan berita dari Ma-Huan di Majapahit telah bermukim orangorang asing. Hal ini menunjukkan bahwa perdagangan di Majapahit sudah ramai. Selain itu juga diperkuat adanya relief-relief di Candi Tigawangi dan Penataran yang menggambarkan para pedagang dari desa sedang memikul hasil bumi.
10. Kerajaan Sunda
Sumber Sejarah
Prasasti sang Hyang Tapak yang memunculkan nama Kerajaan Sunda, ditemukan di Pancalikan dan Bantarmuncang, Sukabumi yang menggunakan tulisan Huruf Kawi dan bahasa jawa Kuno.
Politik
Menurut kitab Carita Parahyangan, yang menjadi Raja Sunda di Kawali setelah Perang Bubat adalah Rahyang Niskala Wastu Kencana, ketika diangkat sebagai Raja, Wastu masih kecil sehingga pemerintahan sementara di pegang oleh Hyang Bunisora. Setelah berusia 23 tahun, Wastu memegang kekuasaan secara langsung. Raja berikutnya adalah Tohaan yang kemudian di gantikan oleh Sang Ratu Jayadewata.
Menurut berita Portugis pada tahun 1512 Raja Samiam dari Kerajaan Sunda meminta bantuan kepada Portugis. Pada masa pemerintahannya Sunda Kelapa, jatuh ke tangan pasukan Islam. Peristiwa ini menyebabkan terputusnya hubungan antara Sunda dan Portugis. Akibatnya satu demi satu pelabuhan Kerajaan Sunda jatuh ke tangan pasukan Islam. Pada masa pemerintahan Raja Nusiya Mulya keadaan kerajaan semakin lemah sampai akhirnya jatuh ke dalam kekuasaan Islam.
SosialBerdasarkan sumber Sejarah memberikan keterangan adanya kelompok-kelompok masyarakat berdasarkan fungsi yaitu :
o Kelompok masyarakat berdasarkan ekonomi, misalnya juru lukis, pande mas
o Kelompok masyarakat yang bertugas sebagai alat negara, yaitu mantri,prajurit
o Kelompok rohani dan cendekiawan yang terdiri dari memen, paraguna
Ekonomi
Kerajaan Sunda hidup dari hasil pertanian,terutama perladangan. Selain itu bidang perdagangan juga sudah maju dengan didukung adanya enam Bandar sebagai tempat perdagangan.
11. Kerajaan Bali
Sumber Sejarah
1. Prasasti Bali berisi tentang perizinan kepada para biksu untuk membuat pertapaan di bukit chintamani
2. Prasasti Blanjong yang berbahasa Bali Kuno.
3. Prasasti Sanur yang memakai huruf Nagari dengan bahasa Bali Kuno dan Sanskerta.
Politik
Dari prasasti Belanjong dapat diketahui bahwa pengganti Khesari Warmadewa adalah Ugrasena, setelah mangkat ia dicandikan di air Madatu. Penggantinya adalah Jayasingha Warmadewa, beliau membangun pemandian di Desa Manukraya yaitu pemandian Tirta Empul di Istana Tampak Siring. Penggantinya adalah Jayasadhu yang kemudian muncul raja perempuan yang bernama maharaja Sri Wijaya Mahadewi. Setelahnya yang memimpin adalah Dharmodayana pada saat pemerintahannya Bali semakin jelas keadaannya terlebih lagi dengan adanya perkawinannya dengan Gunapriya Dharmapatmi yang kemudian mempunyai tiga orang anak. Yang kemudian menggantikan tahta ayahnya.
Pertempuran antara pasukan Gajah Mada dan pasukan bali yang dipimpin oleh Kebo Iwa yang kemudian ia berhasil membujuk Gajah Mada untuk pergi ke Maja pahit sesampainya di Majapahit Kebo Iwa dibunuh. Selanjutnya Gajah waktra yang berada di Bali ikut di bunuh dan bali berada pada tangan Majapahit.
Sosial
Masyarakat umumnya hidup berkelompok dalam satu daerah dan membagi menjadi dua kelompok yaitu golongan Catur Warna dan golongan luar kasta serta sebagian besar mereka hidup bercocok tanam.
EkonomiMasyarakat bali umumnya hidup bercocok tanam dan memelihara binatang ternak. Bidang perdagangan pada masa itu sudah cukup maju hal itu dapat dilihat dari Prasasti Julah yang menyebut tentang perdagangan dari seberang yang datang dengan kapal dan perahu berlabuh di Manasa.
D. Arsitektur Monumen keagamaan Hindu Dan Budha di Indonesia.
prambanan                                                                      Candi Prambanan
Salah satu peninggalan dari zaman Hindu-Budha yang sangat berharga sebagai sumber sejarah Indonesia kuno adalah bidang arsitektur atau seni bangun, seperti candi. Candi dalam agama Hindu sebenarnya adalah bangunan untuk memuliakan raja yang telah wafat.
Arca Syiwa yang merupakan perwujudan yang melukiskan sang raja sebagai dewa, namun sering kali arca perwujudan itu berupa lambang syiwa saja yaitu lingga.
Candi sebagai bangunan terdiri dari tiga bagian yaitu sebagai berikut :
a) Kaki candi yang melambangkan alam bawahtempat manusia biasa
b) Badan candi yang melambangkan alam atara tempat manusia yang telah meninggalkan keduniawiannya dan alam keadaan suci menemui dewanya
c) Atap candi yang melambangkan alam atas tempat bersemanyamnya para dewa.
Berdasarkan cara pengelompokannya candi-candi di Indonesia dapat di bagi menjadi tiga jenis, yaitu :
1) Jenis Jawa Tengah Utara yang bersifat Syiwa
2) Jenis Jawa Tengah Selatan yang bersifat Hindu Dan Budha
3) Jenis Jawa Timur temasuk candi-candi di Bali dan Sumatra yang bersifat pembauran antara Syiwa, Budha dan kepercayaan lokal.
E. Hubungan perkembangan tradisi Hindu-Budha dengan perubahan struktur sosial masyarakat, pendidikan, kesenian, dan teknologi pada masa kerajaan-kerajaan bercorak Hindu-Budha di IndonesiaMasuk dan berkembangnya pengaruh tradisi hindu membawa perubahan terhadap masyarakat di kepulauan Indonesia, yakni tampak pada susunan masyarakat Indonesia yang berdasarkan sistem kasta :
1. Brahmana yaitu golongan masyarakat yang terdiri atas kaum pendeta, raja dan pembesar kerajaan lainnya
2. Ksatriya yaitu golongan masyarakat yang terdiri atas para bangsawan dan prajurit atau tentara
3. Waisya yaitu golongan masyarakat yang terdiri atas para pedagang, petani, dan masyarakat biasa
4. Sudra yaitu golongan masyarakat yang terdiri atas para budak dan pekerja kasar
5. Paria yaitu golongan masyarakat yang terdiri atas penduduk pendatang dan oaringorang yang terkena hukuman karena melanggar aturan kasta
Penganut agama Hindu percaya pada banyak dewa (politeisme) yang tergabung kedalam Trimurti yaitu :
 Brahmana sebagai dewa pencipta alam semesta
 Wisnu sebagai dewa pemelihara alam semesta
 Siwa sebagai dewa perusak alam semesta
Menurut ajaran agama Budha orang yang ingin mencapai nirwana wajib menjalani hidup samsara (sengsara) dengan meninggalkan hidup kedunia dan memerangi hawa nafsu dalam ajaran agama budha terdapat empat kenyataan hidup yaitu :
1) Hidup adalah sengsara
2) Samsara di sebabkan oleh mengikuti hawa nafsu ingin menguasai dunia
3) Samsara dapat dihilangkan dengan cara memerangi hawa nafsu
4) Hawa nafsu dapat di hilangkan dengan cara menempuh delapan jalan kebenaran atau Dharma
Karena dalam ajaran budha dikenal adanya sistem kasta maka banyak masyarakat Indonesia yang berpindah menganut agama budha karena tidak memandang status sosial atau kedudukan seseorang dalam masyarakat.
Beberapa sumber sejarah menjeleskan tentang sistem dan proses pendidikan di Indonesia antara lain prasasti, candi, arca, kraton maupun naskah kuno. Beberapa pengaruh tradisi Hindu-Budha di Indonesia atara lain bentuk seni arsitektur seperti bangunan candi. Bangunan candi yang bercorak agama Budha di India umumnya berbentuk stupa,tetapi di Indonesia berbentuk punden berundak yang merupakan tempat tinggal para Hyang (nenek moyang). Candi sebagai tempat sementara dewa merupakan bangunan tiruan dari tempat yang sebenarnya,yaitu gunung mahameru selai itu biasanya candi juga di hiasi oleh berbagai hiasan dan pahatan seperti hiasan bunga teratai,hewan keramat,bidadari dan arca-arca dewa adalah khas alam Indonesia,selain candi Indonesia juga ditemukan bangunan kuil atau pura sebagai tempat peribadatan penganut agama Hindu.
Pada masa pengaruh tradisi Hindu-Budha teknik bercocok tanam masih dilakukan secara sederhana seperti berladang yang dilakukan secara berpindah-pindah tempat dan dikerjakan dengan peralatan yang sederhana.
Dalam bidang teknologi pengangkutan terjadi perubahan dan perkembangan dari waktu ke waktu, sejalan dengan perkembangan IPTEK yang dikuasai oleh masyarakat.
F. Faktor-faktor Penyebab Runtuhnya Kerajaan-Kerajaan Bercorak Hindu-Budha.
Memasuki abad ke-15 M,Kerajaan Majapahit dan Kerajaan-Kerajaan yang bercorak Hindu-Budha mulai mengalami kemunduran.yang disebabkan oleh beberapa hal, diantaranya adalah karena terdesak dan terkalahkan oleh kemajuan yang dicapai oleh kesultanan-kesultanan yang bercorak islam. Selain itu terjadi pula perang saudara di Majapahit yang menyebabkan kekuatan Majapahit menjadi lemah dan terpecah, dalam situasi seperti ini pengawasan pemerintahan pusat kepada raja daerah menjadi longgar sehingga memicu raja-raja di daerah menyusun kekuatan sendiri, berhubungan dengan negara lain, mencari pertuanan baru, dan selanjutnya melepaskan diri.
Perkembangan agama Islam juga ikut mempercepat keruntuhan Majapahit karena raja-raja bawahan telah memeluk agama Islam yang kemudian berpaling dari Majapahit dan mencari pertuanan baru. Serta munculnya Malaka sebagai pusat perdagangan Islam yang menyebabkan Bandar Majapahit menjadi jarang dikunjungi oleh pedagang asing. Namun dengan runtuhnya Majapahit pada awal abad ke-16 M, Indonesia memasuki babakan baru, yaitu periode kesultanan-kesultanan yang bercorak Islam.
G. Tradisi Hindu-Budha di Dalam masyarakat Setelah Runtuhnya Kerajaan Hindu-Budha.Pada awalnya tradisi Hindu-Budha hanya dikenal dikalangan Keraton. Namun tradisi itu lambat laun masuk ke desa-desa dan bertemu dengan kepercayaan asli masyarakat yang memuja arwah leluhur yang menyebabkan adanya akulturasi antara kebudayaan Hindu-Budha dengan kebudayaan asli (lokal).
Apabila unsur kebudayaan asli di suatu tempat kuat, unsur kebudayaan asli akan bertahan dan berpadu dengan kebudayaan hindu-Budha dan sebaliknya. Runtuhnya kerajaan Majapahit pada awal abad ke-16 menyebabkan kekuasaan Hindu-Budha lenyap di Nusantara,namun sampai zaman sekarang agama Hindu masih tetap ada seperti Hindu Bali yang juga disebut Hindu Dharma yang merupakan percampuran antara Animisme, Hindu dan Budha.
Menurut tradisi masuknya agama Hindu ke kepulauan Bali diduga terjadi sejak abad ke-7 dengan tibanya rombongan dari Jawa yang dipimpin oleh Markandeya, dalam proses akulturasi antara kebudayaan Bali asli dengan kebudayaan Hindu yang menyebabkan adanya aliran Hinduisme.

Pengaruh Penyebaran Budaya Hindu-Budha di Indonesia Ver 2


Pengaruh budaya India di Indonesia yang dimaksud oleh tulisan ini sesungguhnya hendak memberi gambaran sejumlah pengaruh kebudayaan India yang datang dan melakukan kontak dengan penduduk kepulauan nusantara di masa lalu. Kebetulan, orang-orang India yang melakukan kontak tersebut beragama Hindu dan Buddha. Di masa awal ini, Islam belum terorganisasi secara formal sebagai agama di jazirah Arabia. Pengaruh India tidak hanya pada tataran agama. Pengaruh juga meliputi bahasa, bangunan, teknologi, aksara, politik, ataupun sistem sosial. Kendati secara tertulis pengaruh tersebut sekurangnya telah tercatat sejak 400-an Masehi, tetapi masih dapat diidentifikasi dalam budaya Indonesia saat ini. Jill Forshee bahkan mencatat, sejak abad pertama Masehi kontak-kontak antara masyarakat asli Indonesia dengan India bersifat intensif. Kontak terutama melalui jalur hubungan laut.

Koentjaraningrat menyatakan bahwa sebelum kontak dengan India, penduduk asli Indonesia telah mengembangkan pranata sosial Negara. Negara ini dibuktikan adanya prasasti Muara Kaman yang menunjukkan eksistensi kerajaan Kutai dengan rajanya Kudungga. Orang-orang Indonesia kemudian melakukan kontak dengan para pedagang dan pemimpin agama (pendeta) dari India. Selain Kutai, juga berdiri kerajaan-kerajaan asli di Jawa Barat tepatnya di tepi sungai Cisadane, Bogor. [1]

Koentjaraningrat beranggapan kerajaan-kerajaan tersebut sudah hidup makmur lewat kontak dagangnya dengan India Selatan. Raja-rajanya lalu mengadaptasi sejumlah konsep Hindu (komponen non material budaya) ke dalam struktur kerajaannya. Mereka mengundang para Brahmana beraliran Wisnu dan Brahma dari India Selatan. Mereka memberi konsultasi dan nasehat mengenai struktur dan upacara-upacara keagamaan, termasuk bentuk, organisasi, dan upacara-ucapara kenegaraan menurut sistem India Selatan. Dari anggapan ini, maka sesungguhnya pengaruh India tidak datang lewat penaklukan melainkan permintaan (by request, by consent). Orang-orang Indonesia justru mengundang mereka karena ada kehendak untuk maju dan membuka diri. Lewat undangan inilah, kesusasteraan dan agama India masuk ke Indonesia. Namun, yang menerima pengaruh adalah lapisan atas kekuasaan dan masyarakat di sekitar istana. Masyarakat biasa hampir kurang tersentuh oleh pengaruh ini.

Akibat pengaruh India, struktur sosial Indonesia seperti desa yang awalnya egaliter perlahan berubah dengan masuknya konsep kenegaraan India Selatan yang hirarkis. Raja mulai dianggap turunan dewa. Namun, pengaruh hirarkis ini juga tidak dapat dipukul rata. Ia terutama diadaptasi oleh kerajaan-kerajaan di pedalaman Indonesia yang mengandalkan pertanian dan irigasi sebagai basis ekonominya. Masyarakat atau kerajaan di pesisir pantai tidak terlampau terpengaruh oleh sistem India Selatan ini. Contoh negara pesisir adalah Sriwijaya di mana perdagangan menjadi basis ekonomi andalan. Dalam Negara yang demikian, tidak diperlukan wilayah pertanian, petani yang banyak, serta wilayah pedalaman yang luas untuk menanam bahan pangan oleh sebab barang konsumsi dapat diperoleh lewat interaksi pertukaran (perdagangan). Sriwijaya pun lebih terpengaruh oleh Buddha yang lebih menekankan self-conscience dan individualitas. Tidak terlalu banyak peninggalan berupa candi di Sriwijaya jika dibandingkan dengan wilayah Jawa.

Sebaliknya, di Jawa pengaruh Hindu yang menekankan pada kolektivitas dan hirarki berkembang pesat. Ini akibat basis ekonomi Jawa di mana nuansa pertaniannya begitu kental. Contoh dari ini adalah kerajaan Mataram Hindu, Kediri, Singasari, ataupun Majapahit. Mereka adalah Negara-negara agraris. Letaknya di daerah-daerah subur lembah sungai, sekitargunung berapi, dan rakyatnya hidup dari bercocok tanam. Akibat surplus beras, mulailah kerajaan-kerajaan Jawa ini, misalnya Singasari, berekspansi keluar wilayah dengan mencari Negara-negara bawahan di kepulauan Nusantara. Politik tersusun secara hirarkis, di mana pendeta adalah pemimpin spiritual dan raja bertindak selaku pemimpin dunia. Pemberkatan seorang raja harus dilakukan pendeta. Namun, susunan ini hanya berlangsung di level atas (palace circle) sementara masyarakat biasa (terutama daerah pesisir pantai) hampir tidak tersentuh oleh kebiasaan ini. Barangkali ini pula yang mengakibatkan pengaruh-pengaruh lain (semisal Islam dan individualitas Barat) masuk dengan mudahnya ke kalangan masyarakat Indonesia.

1. Pengaruh di Bidang Bahasa

Kini masih sering ditemukan nama atau kata seperti pustaka, karya, guru, sastra, indra, wijaya, ataupun semboyan-semboyan seperti Kartika Eka Paksi ataupun Jalesveva Jayamahe. Kata-kata tersebut berasal dari bahasa Sanskerta. Penggunaan kata dari bahasa tersebut merupakan bukti hingga kini pun pengaruh India masih terasa di bumi Indonesia. Salah satu penyebabnya, budaya India merupakan budaya asing pertama yang oleh moyang Indonesia dinilai progresif. Proses asimilasi dan akulturasi budaya India durasinya paling lama di Indonesia. Hasil asimilasi dan akulturasi tersebut lalu diakui sebagai bagian dari budaya Indonesia.

Jika bukti tertulis yang hendak dikedepankan dalam masalah bahasa, maka prasasti Muara Kaman, yang berlokasi di Kalimantan Timur, 150 kilometer ke arah hulu Sungai Mahakam, dapat diambil selaku titik tolak tertua. Prasasti tersebut dicanangkan tahun 400 Masehi. Hal yang menarik adalah, prasasti menyuratkan hadirnya dua budaya berbeda: Asli Indonesia dan pengaruh India. Indikatornya adalah nama-nama raja yang terpahat. Prasasti Muara Kaman menceritakan Raja Kudungga punya putra bernama Açwawarman. Açwawarman punya tiga putra dan yang paling sakti di antara ketiganya adalah Mulawarman. Nama Açwawarman dan Mulamarman berasal dari bahasa Sanskerta, sementara Kudungga bukan. Kudungga kemungkinan besar adalah nama yang berkembang di Kutai sebelum datangnya pengaruh India dan agama Hindu.

Sanskerta adalah bahasa yang dibawa oleh orang-orang India, sementara Pallawa adalah huruf untuk menuliskannya. Secara genealogis, Sanskerta termasuk rumpun bahasa Indo Eropa. Termasuk ke dalam rumpun ini bahasa Jerman, Armenia, Baltik, Slavia, Roman, Celtic, Gaul, dan Indo Iranian. Di Asia, rumpun bahasa Indo Iranian adalah yang terbesar, termasuk ke dalamnya bahasa Iranian dan Indo Arya. Sanskerta ada di kelompok Indo Arya.[2]

Mengenai fungsinya, Sanskerta merupakan bahasa utama disiplin agama Hindu dan Buddha. Dari sana, Sanskerta kemudian meluas penggunaannya selaku bahasa pergaulan dan dagang di nusantara, sebelum digantikan Melayu. James T. Collins mencatat signifikansi penggunaan bahasa Sanskerta di nusantara. Menurutnya, bauran antara bahasa sanskerta dengan melayu (sebagai cikal-bakal bahasa Indonesia) sudah berlangsung ratusan tahun. Ini terbukti sejak abad ke-7 para penganut agama Buddha di Tiongkok sanggup berlayar hanya untuk mengunjungi pusat ilmu Buddha di Sriwijaya (Sumatera Selatan).[3]

Menurut Collins, kunjungan ini akibat masyhurnya nusantara sebagai basis pelajaran agama Buddha dan bahasa Sanskerta. I-Ching, seorang biksu Buddha dari Tiongkok, bahkan menulis dua buku berbahasa Sanskerta di Palembang. Ia menasihati pembacanya untuk terlebih dahulu singgah di Fo-shih (Palembang) untuk mempelajari bahasa dan tata bahasa Sanskerta sebelum mereka melanjutkan ziarah ke kota-kota suci Buddha di India.[4] I-Ching juga mengutarakan bahwa di Palembang sendiri terdapat 1000 orang sarjana Buddha.

Posisi Sriwijaya saat itu sebagai transit perdagangan penting di Selat Malaka sekaligus basis pendidikan bahasa Sanskerta membuat pengaruh bahasa ini jadi signifikan. Sanskerta terutama terdiseminasi lewat perdagangan. Seperti diketahui, Sriwijaya adalah kerajaan yang basis ekonominya perdagangan. Dalam perdagangan interaksi antarorang asing yang menggunakan bahasa berbeda sangat tinggi. Situasi ini membutuhkan sebuah bahasa mediator antarorang dan Sanskerta menjalankan perannya. Namun, lambat-laun bahasa Sanskerta menjadi eksklusif karena berkelindan pula dengan gagasan kasta yang berkembang dalam agama Hindu. Penggunaan Sanskerta lalu terbatasi hanya pada dua kasta pengguna, Brahmana dan Ksatria.

Setelah masuk Indonesia, bahasa Sanskerta dari India, tidak murni lagi. Di Jawa misalnya, muncul bahasa hasil asimilasi Sanskerta dengan budaya lokal yang dikenal dengan Kawi. Bahasa Kawi atau juga dikenal sebagai Jawa Kuna kemudian menyebar ke pulau lain. Di Sumatera Barat bahasa ini berkembang lewat kekuasaan raja-raja vassal Jawa semisal Adityawarman.

Pada kurun ini pula, di nusantara dikenal penggunaan tiga bahasa dengan fungsi spesifik. Pertama Jawa Kuna sebagai bahasa pergaulan sehari-hari. Kedua, Melayu Kuna sebagai bahasa perdagangan di Sumatera dan Semenanjung Malaya. Ketiga, Sanskerta sebagai bahasa keagamaan. Di era kebudayaan India jadi mainstream di nusantara, Sanskerta merupakan kelompok bahasa elit yang hanya dipakai dalam urusan keagamaan maupun formal pemerintahan. Akibatnya, tidak banyak orang yang menguasai, terlebih kalangan wong alit.

Pengaruh bahasa Sanskerta terhadap bahasa Melayu pun terjadi. Bahasa Melayu – pada perkembangan kemudian – merupakan lingua-franca hubungan dagang antarpulau nusantara menggantikan Sanskerta. Bahasa Melayu juga kelak menjadi dasar dari kelahiran bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan. Sebab itu, dapat pula dikatakan bahasa Sanskerta ini sedikit atau banyaknya punya pengaruh pula terhadap bahasa Indonesia. Penelusuran pengaruh bahasa Sanskerta terhadap Melayu dicontohkan prasasti Kedukan Bukit, Palembang.[5] Prasasti tersebut ditemukan 29 Nopember 1920 dan diperkirakan dibuat tahun 683 Masehi. Jejak lain penggunaan bahasa Sanskerta juga ditemukan di Talang Tuwo, Palembang (684 M, huruf Pallawa), prasasti Kota Kapur, Bangka (686 M, huruf Pallawa), prasasti Karang Brahi, Meringin, Hulu Jambi (686 M, huruf Pallawa), prasasti Gandasuli, Jawa Tengah (832 M, aksara Nagari), dan prasasti Keping Tembaga Laguna, dekat Manila, Filipina.

Sebagian bahasa Sanskerta diserap ke dalam Melayu. Kemungkinan ada 800 kosa kata bahasa Melayu merupakan hasil penyerapan dari bahasa Sanskerta. Beberapa kosa kata Sanskerta yang diserap ke dalam bahasa Melayu (juga Indonesia) antara lain :[6]

Pengaruh Sanskerta terhadap Bahasa Melayu


Sanskerta
Melayu

Sanskerta
Melayu
dūta
Duta, wakil

akara
Aksara (huruf)
rūpya
Rupiah

ākāśa
Angkasa (langit)
samudra
Samudra

smara
Asmara (cinta)
śāstri
Santri

bhāa
Bahasa
svayambara
Sayembara

vaśa
Bangsa (rakyat)
sajjita
Senjata

vāñcana
Bencana
chalaka
Celaka

bhaāra
Berhala
śuci
Cuci, membersihkan

chidra
Cedera
gaja
Gajah

carita
cerita
virama
Irama

yaśa
Yayasan
lalita
Jelita

utsaha
Usaha
kacchapī
Kecapi

udara
Udara
katha
Kata

suddha
Sudah
kua
Kota

svara
Suara
kulavarga
Keluarga

siya
Siswa
laghu
Lagu

siha
Singa
nāma
Nama

sasāra
Sengsara
naraka
Neraka

sārdhāna
Sederhana
sabda
Sabda

sajjana
Sarjana
aggama
Agama

satrou
Seteru
soudara
Saudara

maharddhika
Merdeka, kuat
tsjinta
Cinta

drohaka
Durhaka
warna
Warna

velā
Bila

Selain kata-kata yang sudah diserap di tabel atas, ada pula kosa kata yang sudah digunakan dalam prasasti-prasasti berbahasa Sanskerta sejak tahun 1303 M di wilayah Trengganu (sekarang Malaysia). Kosa kata tersebut adalah: derma, acara, bumi, keluarga, suami, raja, bicara, atau, denda, agama, merdeka, bendara, menteri, isteri, ataupun seri paduka. Selain bahasa, huruf Pallawa yang digunakan untuk menulis kosa kata Sanskerta pun turut menyumbangkan pengaruh para huruf-huruf yang berkembang di Indonesia seperti huruf Bugis, Sunda, ataupun Jawi.

2. Pengaruh India di Bidang Arsitektur

Arsitektur atau seni bangunan ala masa India juga bertahan hingga kini. Meski tampilannya tidak lagi identik dengan bangunan Hindu-Buddha (candi) yang asli India, tetapi pengaruh Hindu-Buddha tersebut membuat arsitektur bangunan yang ada di Indonesia menjadi khas. Salah satu ciri bangunan Hindu-Buddha adalah berundak tiga. Sejumlah undakan umumnya terdapat di struktur bangunan candi yang ada di Indonesia. Undakan tersebut terlihat paling jelas di Candi Borobudur, bangunan peninggalan Dinasti Syailendra yang beragama Buddha.

Ciri khas arsitektur candi adalah adanya 3 bagian utama yaitu kepala, badan dan kaki. Ketiga bagian ini melambangkan triloka atau tiga dunia, yaitu: bhurloka (dunia manusia), bhuvarloka (dunia orang-orang yang tersucikan), dan svarloka (dunia para dewa).


Struktur Candi

Pengaruh sistem tiga tahap kehidupan spiritual manusia bertahan cukup lama. Bahkan ia banyak diadaptasi oleh bangunan-bangunan yang dibangun pada masa yang lebih baru. Bangunan-bangunan yang memiliki ciri seperti ini beranjak dari bangunan sakral (spiritual) semisal masjid maupun bangunan profan (biasa) semisal Gedung Saté di Bandung.

Arsitektur candi lalu mempengaruhi bangunan-bangunan lain yang lebih modern. Misalnya, Masjid Kudus mempertahankan pola arsitektur bangunan Hindu. Masjid yang aslinya bernama Al Aqsa, dibangun Jafar Shodiq (Sunan Kudus) tahun 1549 M. Hal yang unik adalah, menara di sisi timur bangunan masjid menggunakan arsitektur candi Hindu. Selain bentuk menara, sisa lain arsitektur Hindu terdapat pada gerbang masjid yang menyerupai gapura sebuah pura. Juga tidak ketinggalan lokasi wudhu, yang pancurannya dihiasi ornamen khas Hindu.

Terdapat dua hipotesis yang menjelaskan mengapa Jafar Shodiq menyematkan arsitektur Hindu ke dalam masjidnya. Hipotesis pertama mengasumsikan proyek pembangunan masjid hasil akulturasi budaya Hindu yang banyak dipraktekkan masyarakat Kudus sebelumnya oleh Islam yang tengah berkembang. Ini dimaksudkan agar tidak terjadi cultural shock yang mengakibatkan alienasi para pemeluk Islam baru sebab tiba-tiba tercerabut budaya asal mereka. Hipotesis kedua menyatakan penempatan arsitektur Hindu akibat para arsitek dan tukang yang membangun masjid hanya menguasai gaya bangunan Hindu. Hasilnya, bangunan yang kemudian berdiri jadi bercorak Hindu.

Pengaruh arsitektur Hindu pun terjadi pada bangunan yang lebih kontemporer semisal Gedung Saté yang terletak di Kota Bandung. Gedung Saté didirikan tahun 1920-1924 dengan arsiteknya Ir. J. Gerber. Jika diamati lebih dekat, maka bagian bawah dinding Gedung Saté memuat ornamen-ornamen khas Hindu. Termasuk pula, menara yang terletak di puncak atas gedung yang mirip menara masjid Kudus atau seperti tumpak yang ada di bangunan suci Hindu di daerah Bali. Tentu saja, arsitektur Gedung Saté tidak semata mendasarkan diri pada arsitektur Hindu. Ia merupakan perpaduan antara arsitektur Belanda dengan Lokal Indonesia.

Bangunan modern lain yang memiliki nuansa arsitektur Hindu ditampakkan Masjid Demak. Arsitektur Hindu pada masjid yang didirikan tahun 1466 M ini misalnya tampak pada atap limas bersusun tiga, mirip candi, yang bermaknakan bhurloka, bhuvarloka, dan svarloka. Namun, tiga makna tersebut diakulturasi kearah aqidah Islam menjadi islam, iman, dan ihsan. Ciri lainnya bentuk atap yang mengecil dengan kemiringan lebih tegak ketimbang atap di bawahnya. Atap tertinggi berbentuk limasan ditambah hiasan mahkota pada puncaknya. Komposisi ini mirip meru, bangunan tersuci di setiap pura Hindu.[7]

3. Pengaruh India di Bidang Kesusasteraan

Salah satu peninggalan sastra India yang terkenal diantaranya Ramayana, Mahabarata, dan kisah perang Baratayudha. Sastra India cukup berpengaruh atas budaya asli Indonesia yaitu wayang. Wayang tadinya digunakan sebagai media pemberi nasihat tetua adat terhadap keluarga yang salah satu kerabatnya meninggal dunia. Pada perkembangannya, wayang digunakan sebagai basis pengajaran etika, agama, dan budaya.

Tokoh-tokoh India yang terkenal dalam wayang misalnya Pandawa Lima (Yudhistira, Bima, Arjuna, Nakula-Sadewa), Kurawa (Duryudana dan keluarganya), Ramayana (Hanoman, Rama, Sinta), ataupun kisah Bagavadgita (wejangan Sri Kresna atas Arjuna sebelum perang). Local genius Indonesia mengimbangi dominasi tokoh-tokoh wayang asal India dengan menciptakan punakawan. Selain Semar, tokoh-tokoh punakawan Indonesia pun memainkan peran sentral dalam kesenian wayang. Tokoh-tokoh seperti Petruk, Gareng, atapun Bagong berperan selaku pengimbang dalam sejumlah lakon wayang Indonesia. Bahkan, para punakawan seringkali bertindak (secara satir) sebagai penakluk sekaligus pemberi wejangan atas para tokoh asal kesusasteraan India.

Dengan varian tokoh Indianya, kini wayang diakui sebagai budaya asli Indonesia. Local genius Indonesia memperkaya budaya aslinya (wayang) baik dengan tokoh kesusasteraan India maupun tokoh racikan mereka sendiri. Di masa perkembangan Islam, wayang juga digunakan Sunan Kalijaga untuk menyebarkan ajaran baru ini. Lakon semisal Jamus Kalimasada, yang menceritakan kalimat syahadat dengan Semar selaku tokoh yang memberikan pengajaran kepada Pandawa yang berasal dari India, diciptakan. Cerita-cerita yang terkandung dalam kesusasteraan India memiliki nilai moralitas tinggi. Ia menceritakan pertempuran antara kebaikan melawan kejahatan, kelemahan-kelemahan manusia, dan bakti terhadap orang tua serta Negara. Tradisi sastra India justru memperkaya khasanah cerita wayang lokal Indonesia. Berkas peninggalan India Hindu paling jelas terlihat di Bali dan sebagian masyarakat Tengger di Jawa Timur. Bali bahkan menjadi semacam daerah konservasi pengaruh India yang pernah berkembang di kepulauan nusantara. Di Bali, seni bangunan, seni ukir, seni rupa dan tari masih kental nuansa pengaruh peradaban India, di samping tentunya budaya lokal Bali sendiri.