Showing posts with label Domba Bulu. Show all posts
Showing posts with label Domba Bulu. Show all posts

Wednesday, 20 March 2013

Ciri Standar Domba Barbados Peruthitam (Blackbelly)

KEPALA
IDEAL: • Bentuk kepala lonjong hingga segitiga dengan hidung "romawi" atau mancung. • Kepala domba Barbados jantan terlihat gagah dan kepala domba Barbados betina terlihat anggun. • Mulut lebar dan kuat dengan bibir rapat.Gigi seri menyentuh gusi.

DITERIMA: Kepala domba Barbados betina mungkin terlihat kurang anggun tapi masih jelas berbeda dengan kepala domba Barbados jantan.

DITOLAK: Mulut lebih sempit dari ideal.

TIDAK SESUAI STANDAR: Rahang atas atau rahang bawah monyong.

TELINGA
IDEAL: • Telinga tegak menghadap ke samping dan saat waspada telinganya tegak dan sejajar dengan tanah. • Panjang telinga sekitar setengah lebar kepala di titik terlebar kepala. • Sedikit perbedaan ukuran telinga dapat diterima.

DITERIMA: Telinga menghadap ke depan atau telinga tidak sejajar dengan tanah.

DITOLAK: Telinga lemas pada domba Barbados dewasa atau telinganya separuh ukuran telinga normal atau lebih kecil lagi (telinga “elf”)

MATA
IDEAL:
  • Mata domba Barbados berbentuk seperti kacang almond atau lonjong berujung lancip.
  • Bola mata domba Barbados berwarna coklat atau coklat keemasan.
DITOLAK: Mata domba berwarna selain coklat atau coklat keemasan.

TIDAK SESUAI STANDAR: Kelopak mata terlipat (inverted eyelid) atau matanya buta.

KETIADAAN TANDUK
IDEAL: Domba Barbados jantan maupun betina tidak bertanduk dan tidak memperlihatkan pertumbuhan lempeng tanduk.

DITERIMA: Tanduk semu longgar atau tanduk semu menempel ke lempeng tanduk domba Barbados jantan dengan panjang tidak lebih dari 3/4 inci pada domba Barbados jantan dewasa.

DITOLAK: Tanduk semu longgar atau tanduk semua menempel ke lempeng tanduk domba Barbados jantan dengan panjang 3/4 sampai 1 1/2 inci pada domba Barbados jantan dewasa.

TIDAK SESUAI STANDAR: Domba Barbados betina bertanduk atau bertanduk semu; domba Barbados jantan bertanduk atau bertanduk semua dengan  panjang lebih dari 1 1/2 inci.

LEHER
IDEAL: Leher domba Barbados kuat dan berotot, jelas, dan tanpa lipatan kulit.

DITERIMA: Kadang-kadang terdapat gelambir pada leher.

DITOLAK: Leher tipis dan kurus.

BADAN BAGIAN DEPAN
IDEAL:
  • Paha depan dan pundak berotot tebal.
  • Kedua kaki depan terlihat lurus jika dilihat dari depan dan samping.
  • Pasterna kuat dan lentur.
DITERIMA:  Kuku yang agak menghadap keluar tidak jarang ditemukan pada domba Barbados.

DITOLAK:
  • Pundak lemah dan kurus sehingga tulangnya menonjol.
  • Pasterna lemah, kaki berkuku merpati atau berkuku menghadap ke dalam, dan lutut beradu, lutut melengkung ke belakang, atau lutut melengkung ke depan.
TIDAK SESUAI STANDAR: Penyimpangan yang jelas dari ciri ideal, termasuk tapi tidak terbatas pada penyimpangan yang mengurangi kemampuan domba Barbados berjalan dengan normal.

BADAN BAGIAN BELAKANG
IDEAL:
  • Badan bagian belakang berotot dengan panggul panjang dan melereng bertahap.
  • Kedua kaki belakang jika dilihat dari belakang terlihat lurus.
  • Dari samping terlihat garis vertikal yang turun dari bagian belakang bokong sampai ujung sendi tarsus atau lutut belakang dan bagian belakang pergelangan kaki dan menyentuh tanah 1 hingga 2 inci di belakang tumit. 
DITERIMA:  Kedua lutut belakang yang agak menghadap ke dalam tidak jarang ditemukan pada domba Barbados. Jika dilihat dari belakang, lutut belakang atau sendi tarsus menghadap ke dalam sehingga kedua kaki belakang terlihat melengkung ke dalam.

DITOLAK: Kaki belakang dengan kedua lutut melengkung keluar; kaki belakang berlutut sabit; dan kaki belakang terlalu lurus.

TIDAK SESUAI STANDAR: Penyimpangan jelas dari ciri ideal, termasuk namun tidak terbatas pada penyimpangan yang mengurangi kemampuan domba Barbados berjalan dengan normal.

KAKI

IDEAL: Domba Barbados berkuku belah, hitam, dan bersih dengan permukaan halus mengkilap.

DITOLAK: Kuku putih atau kuku dengan bercak putih di permukaannya;

TIDAK SESUAI STANDAR: Penyimpangan yang jelas dari ciri ideal, termasuk namun tidak terbatas pada penyimpangan yang mengurangi kemampuan domba untuk berjalan normal secara normal.

Penerjemah Inggris-Indonesia
Hipyan Nopri

Sumber:
http://www.blackbellysheep.org/about-the-sheep/barbados-blackbelly/

Bersambung

Sunday, 13 May 2012

Domba Komposit Sumatera

90% trah domba ternak di dunia adalah domba wol (wool sheep), dan hanya 10% saja domba bulu (hair sheep). Domba wol sangat cocok hidup di daerah beriklim sejuk seperti di luar negeri. Sebaliknya, domba bulu lebih cocok hidup di daerah beriklim tropis seperti Indonesia.

Sayangnya, trah domba asli Indonesia semuanya merupakan domba wol kasar. Karena itu, mengingat biaya yang sangat mahal jika mendatangkan domba bulu langsung dari luar negeri, cara terbaik untuk mengurangi kadar wol pada domba lokal adalah dengan melakukan perkawinan silang antara domba bulu dengan domba lokal. Salah satu usaha ini dilakukan oleh Instalasi Penelitian dan Pengkajian Teknologi Pertanian (IP2TP) di Sungai Putih, kecamatan Galang, kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara. Usaha lembaga penelitian ini telah menghasilkan trah domba unggul yang dinamakan Domba Komposit Sumatera atau Domba Sungai Putih.

Domba Komposit Sumatera atau disebut juga Domba Sungai Putih merupakan domba hasil perkawinan silang antara Domba Ekor Tipis lokal Sungai Putih, kecamatan Galang, kabupaten Deli Serdang, provinsi Sumatera Utara, dengan domba bulu (hair sheep) yang berasal dari luar negeri, yaitu domba St. Croix dan domba Barbados Blackbelly (domba Barbados Perut Hitam). Domba Komposit Sumatera atau Domba Sungai Putih yang dihasilkan dari perkawinan silang ini memperlihatkan pola warna yang beragam: putih, coklat, belang, dan ada juga yang pola warnanya mirip pola warna domba Barbados Perut Hitam.

Komposisi darah Domba Sungai Putih atau Domba Komposit Sumatera adalah 50% Domba Ekor Tipis Sungai Putih, 25% domba St. Croix, dan 25% domba Barbados Perut Hitam.

Keunggulan Domba Komposit Sumatera atau Domba Sungai Putih adalah kemampuannya beradaptasi dengan lingkungan tropis dan lembab di Indonesia. Selain itu, Domba Komposit Sumatera atau Domba Sungai Putih juga mampu terus bereproduksi sepanjang tahun. Domba Sungai Putih juga memperlihatkan laju pertumbuhan yang cukup baik, yaitu lebih 100 gram per hari. Domba Sungai Putih juga menunjukkan jumlah anak sekelahiran (litter size) yang sama dengan Domba Ekor Tipis. Dengan kata lain, Domba Komposit Sumatera atau Domba Sungai Putih merupakan domba prolifik.

Bobot lahir dan bobot sapih rata-rata Domba Komposit Sumatera atau Domba Sungai Putih ini 2,44 dan 12,94 kg. Ini jauh lebih tinggi dibandingkan dengan Domba Ekor Tipis lokal Sungai Putih, yaitu 1,79 dan 8,69 kg. Domba Sungai Putih betina umur enam dan sembilan bulan berbobot 19,76 dan 25,14 kg. Ini juga jauh lebih tinggi dibandingkan dengan bobot badan Domba Ekor Tipis lokal, yang hanya 14,95 dan 17,50 kg.

Domba Sungai Putih betina umur enam bulan berbobot 17 kg, sedangkan Domba Sungai Putih jantan berbobot 23 kg. Pada umur setahun, Domba Sungai Putih betina mencapai bobot badan 22 kilogram, dan Domba Sungai Putih jantan mampu mencapai bobot hidup 35 kg. Domba Sungai Putih jantan berumur di atas satu tahun mampu mencapai berat badan 48 kg atau lebih. Bobot Domba Sungai Putih jantan ini jelas sudah memenuhi syarat bobot hidup domba yang akan diekspor ke luar negeri.

Selain bobot badannya yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan Domba Ekor Tipis lokal, Domba Komposit Sumatera tidak memperlihatkan perbedaan yang signifikan dibandingkan dengan Domba Ekor Tipis lokal dalam hal jumlah anak sekelahiran, jarak beranak dan usia kawin pertama.

Rata-rata jumlah anak sekelahiran pada Domba Komposit Sumatera adalah 1,50, jarak beranak 230 hari, dan usia perkawinan pertama 317 hari. Pada umur tiga bulan, skor ketebalan wol pada Domba Komposit Sumatera lebih rendah (7,92) daripada Domba Ekor Tipis lokal (8,45).

Secara keseluruhan, Domba Komposit Sumatera memperlihatkan kinerja produksi yang lebih baik dan ketebalan rambut wol yang lebih rendah daripada Domba Ekor Tipis lokal.

Sumber:
http://balitnak.litbang.deptan.go.id/index.php?option=com_content&view=article&id=63:sumatera&catid=14:bibit&Itemid=43

Monday, 28 March 2011

Domba Barbados Blackbelly vs Domba American Blackbelly















Di kalangan peternak domba Indonesia mulai dikenal galur domba jenis baru, yaitu domba Barbados. Sebenarnya, istilah domba Barbados ini kurang tepat karena kenyataannya terdapat dua jenis domba Barbados atau disebut juga Barbados Blackbelly (Barbados Perut Hitam) ini.

Kalau istilah domba Barbados dipertahankan, peternak yang belum begitu mengenal kedua jenis domba ini akan beranggapan bahwa domba Barbados Blackbelly (Barbados Perut Hitam) sama saja dengan domba American Blackbelly (domba Amerika Perut Hitam) atau disebut juga domba Barbado (tanpa 's'). Memang, kedua trah domba ini memperlihatkan pola warna yang mirip dan sama-sama termasuk golongan domba bulu (hair sheep), yaitu domba yang tidak memerlukan pencukuran sebagaimana pada domba wol karena rambutnya yang relatif lurus dan pendek.

Kenyataannya, ini merupakan dua galur domba yang berbeda. Perbedaan paling nyata dari kedua galur domba ini adalah domba Barbados atau domba Barbados Blackbelly tidak bertanduk baik pada domba jantan maupun domba betina. Sebaliknya, semua domba American Blackbelly atau domba Barbado jantan bertanduk, sedangkan domba American Blackbelly atau domba Barbado betina sebagian bertanduk dan sebagian tidak.

Friday, 4 February 2011

Gambaran Umum Domba Mouflon

Kalau dilihat penampilan fisiknya, domba Mouflon (Ovis Musimon) sangat mirip dengan domba Urial (Ovis Orientalis atau Ovis Vignei). Kedua spesies domba ini diyakini sebagai nenek moyang utama domba ternak modern yang kita jumpai sekarang ini. Domba Mouflon berasal dari kepulauan Korsika dan Sardinia di Italia, dan Cyprus, tapi belakangan ini telah dibawa ke sebagian besar wilayah Eropa. Sebagaimana kebanyakan domba liar, domba Mouflon hidup di padang rumput daerah pegunungan. Di Korsika, domba Mouflon hidup di pegunungan berbatu-batu berlereng terjal, sehingga domba Mouflon ini terlindung dari hewan pemangsa atau predator.

Domba Mouflon berwarna merah-coklat dengan bagian sepanjang punggung berwarna gelap, dan bagian samping berwarna lebih cerah. Bagian bawah domba Mouflon dan juga separuh bagian bawah kakinya berwarna putih. Moncong domba Mouflon berwarna putih, dan juga terdapat lingkaran putih di sekeliling matanya.

Domba Mouflon jantan dan betina bertanduk, tapi tanduk domba Mouflon jantan lebih besar. Tanduk domba Mouflon yang melingkar berpilin biasanya mencapai panjang sekitar 64 cm, dan melengkung ke belakang di atas kepalanya. Tanduk domba Mouflon tidak merentang keluar pada bagian ujungnya sebagaimana kebanyakan tanduk domba liar. Ukuran tanduk domba Mouflon jantan menentukan statusnya di dalam kelompoknya.

Domba Mouflon kira-kira sama besarnya dengan domba berukuran sedang dengan bobot hidup berkisar 25 hingga 55 kg. Panjang domba Mouflon berkisar 1,2 sampai 1,5 m, dan tinggi domba Mouflon sekitar 60 sampai 120 cm. Domba Mouflon berbulu kasar, dan pada musim dingin bulu domba Mouflon mengalami pertumbuhan rambut wol di bagian bawah bulunya yang membuat domba Mouflon tetap hangat.

Domba Mouflon jantan dan betina hidup dalam kelompok yang terpisah dan hanya berkumpul selama musim kawin. Domba Mouflon betina biasanya mendapat sumber pakan yang lebih baik karena kesehatan domba Mouflon betina lebih penting untuk melahirkan. Domba Mouflon kawin atau birahi pada akhir musim gugur sampai awal musim dingin. Kekuasaan domba Mouflon jantan ditentukan oleh usia dan ukuran tanduknya. Domba-domba Mouflon jantan akan saling mengadu tanduknya untuk menegakkan kekuasaannya.

Domba Mouflon betina baru kawin setelah berusia sekitar 2 hingga 3 tahun. Domba Mouflon jantan baru kawin setelah berumur kira-kira 7 tahun karena domba Mouflon jantan harus mencapai kedudukan sosial yang kuat sebelum diizinkan kawin dengan domba Mouflon betina. Domba Mouflon betina bunting selama 210 hari dan dapat melahirkan seekor atau dua ekor anak domba. Domba Mouflon betina akan mencari tempat berlindung untuk melahirkan anaknya yang sudah mampu berdiri dalam beberapa menit setelah kelahirannya.

Sebagai herbivora, domba Mouflon makan rumput dan dedaunan semak. Domba Mouflon sering diburu untuk mendapatkan tanduk trofinya. Domba Mouflon tergolong hewan pemalu dan biasanya makanan pada malam hari serta tidak tinggal lama di satu tempat.

Selama 50 tahun terakhir, jumlah populasi domba Mouflon telah berkurang akibat hilangnya habitat, perburuan, dan perkawinan silang dengan domba ternak. Populasi domba Mouflon di Sardinia turun menjadi 700 ekor pada tahun 1975, dan peningkatan kembali jumlah populasi domba Mouflon ini relatif lambat. Di Korsika terdapat sekitar 200 hingga 500 domba Mouflon, dan di Cyprus jumlahnya lebih sedikit. Populasi domba Mouflon di kedua pulau ini dikategorikan rawan punah oleh Serikat Konservasi Alam Internasional (IUCN). Namun demikian, populasi domba Mouflon di Eropa daratan semakin meningkat.

Sebagaimana trah domba liar lainnya, domba Mouflon termasuk klasifikasi domba bulu (hair sheep). Keunggulan nyata domba bulu ini adalah mereka tidak memerlukan pencukuran sebagaimana yang harus rutin dilakukan pada domba wol.

Dengan demikian, peternakan domba jenis ini lebih efisien daripada peternakan domba wol. Para peternak luar negeri pun belakangan ini semakin banyak yang mengalihkan perhatian dari domba wol ke domba bulu.

Karena itu, di Eropa dan Amerika sudah cukup banyak peternak yang memelihara domba unggul ini.

Mudah-mudahan, tulisan sederhana ini mampu menimbulkan minat para peternak yang memiliki kemampuan finansial memadai ataupun para pemilik modal Indonesia untuk mendatangkan domba unggul ini ke Indonesia.

Dengan didatangkannya domba unggul ini dari luar negeri ke Indonesia, usaha agrobisnis peternakan Indonesia, terutama peternakan domba, akan semakin berkembang dan koleksi jenis domba yang diternakkan jadi semakin beragam.

Karena galur domba ini belum begitu banyak yang mengembang-biakkannya, dan di Indonesia domba jenis ini belum ada, nilai jualnya tentu relatif tinggi. Nilai jual yang tinggi ini jelas menguntungkan bagi peternaknya.

Sebagai informasi, salah satu ranch di Amerika Serikat menetapkan harga jual domba Mouflon jantan US$1.000 hingga US$2.000. Dengan nilai tukar saat ini, harga ini setara dengan sekitar Rp9 juta hingga Rp18 juta. Harga yang sangat fantastis untuk seekor domba!

Selain itu, domba unggul ini juga bisa dikawin-silangkan dengan domba lokal untuk menghasilkan domba jenis baru dengan kualitas yang lebih baik dan pasti harganya lebih tinggi.

Peternak yang mengembang-biakkan domba unggul ini dapat membidik tiga segmen pasar sekaligus: pertama, penjualan domba Mouflon galur murni kepada para peternak yang ingin ikut mengembang-biakkan domba Mouflon galur murni. Kedua, penjualan peranakan domba Mouflon hasil perkawinan silang domba Mouflon jantan dengan domba lokal betina kepada para peternak yang tidak mampu membeli domba Mouflon galur murni. Ketiga, penjualan peranakan domba Mouflon ke pasar daging dalam negeri maupun luar negeri.

Penerjemah Inggris-Indonesia:
Hipyan

Sumber:
http://en.wikipedia.org/wiki/Mouflon
http://www.blueplanetbiomes.org/mouflon.htm

Gambaran Umum Domba Urial

Domba Urial adalah salah satu domba liar yang masih hidup sampai saat ini. Domba Urial atau disebut juga domba Arkar atau domba Shapo hidup liar di kawasan Asia Tengah yang mencakup wilayah Afghanistan, India barat laut (Kashmir), Iran timur laut dan tenggara, Kazakhstan barat daya, Oman, Pakistan, Tajikistan, Turkmenistan, dan Uzbekistan. Domba Urial (Ovis Orientalis atau Ovis Vignei) merupakan nenek moyang sebagian besar domba ternak (Ovis Aries) yang ada sekarang ini.

Domba Urial hidup di habitat alam dengan kadar tumbuhan sedang sampai daerah yang sangat gersang, terutama padang rumput, tapi domba Urial ini juga terdapat di daerah pertanian dan kawasan hutan. Makanan utama domba Urial adalah rumput, tapi domba Urial suka juga makan dedaunan semak dan pohon, serta biji-bijian.

Ciri utama domba Urial adalah bulunya yang panjang dan berwarna coklat kemerahan yang memudar selama musim dingin. Ciri khas domba Urial jantan adalah lingkaran hitam yang membentang dari leher sampai dada dan sepasang tanduknya yang besar dan janggutnya yang berwarna putih di bawah mulut. Tanduk domba Urial jantan yang besar ini berpilin keluar dari atas kepala dan berbelok ke dalam dan berakhir di belakang kepala. Domba Urial betina juga bertanduk namun lebih pendek dan lebih kecil. Tanduk domba Urial jantan bisa mencapai panjang 100 cm. Tinggi pundak domba Urial jantan dewasa berkisar 80 sampai 90 cm. Bobot hidup domba Urial jantan sekitar 50 kg.

Sebagai hewan sosial, domba Urial hidup berkelompok. Kebiasaan hidup berkelompok ini sangat bermanfaat bagi kelangsungan hidup mereka. Pertama, hal ini membuat hewan pemangsa atau predator kesulitan menangkap dan membunuh salah satu domba Urial ini. Kedua, pada malam hari domba-domba Urial yang berkumpul dan saling merapatkan badannya membuat badan domba Urial ini tetap hangat dalam menghadapi udara malam yang cukup dingin. Dan ketiga, kebiasaan bergerombol ini membuat kegiatan meragut mereka menjadi teratur. Kelompok-kelompok domba Urial biasanya dipimpin oleh seekor domba Urial jantan dewasa yang memandu dan memimpin kelompoknya.

Domba Urial jantan akan saling berkelahi menggunakan tanduknya yang kuat dan besar untuk merebut kekuasaan dan hak mengawini. Tingkah laku ini biasanya terjadi pada awal musim gugur, dan domba Urial jantan yang jadi pemenangnya akan membawa 3 sampai 6 ekor domba Urial betina sebagai pasangan kawinnya.

Musim kawin dimulai saat musim gugur pada bulan September dan November, dan kegiatan kawin ini mencapai puncaknya pada paruh pertama bulan November. Domba Urial jantan, yang biasanya hidup terpisah di luar musim kawin, memilih empat atau lima ekor domba Urial betina sebagai pasangannya. Domba Urial betina ini nanti melahirkan satu atau dua ekor anak domba Urial setelah bunting selama lima bulan. Domba Urial betina yang akan melahirkan memisahkan diri ke bagian atas jurang yang curam dan menggali parit di tempat yang teduh untuk melahirkan anaknya.

Populasi domba Urial di seluruh dunia belum pernah diperkirakan. Namun demikian, populasi domba Urial di dunia cenderung berkurang secara signifikan, mungkin sampai 30% selama tiga generasi. Secara umum, populasi domba Urial terancam terutama oleh perburuan liar dan persaingan mendapatkan sumber pakan dengan hewan ternak.

Domba Urial termasuk dalam kategori domba liar yang rawan punah, tapi sebagian besar subspesies domba Urial sudah masuk kategori bahaya punah. Domba Urial sebagai domba liar mengalami ancaman terutama karena beberapa sebab. Pertama, domba Urial hidup di dataran rendah terbuka yang biasanya berdekatan dengan daerah yang banyak digunakan sebagai tempat penggembalaan sapi, domba, dan kambing, yang semuanya merupakan pesaing ekologis dan bisa menyebarkan penyakit. Kedua, kehadiran manusia yang dekat dengan habitat domba Urial juga menimbulkan perburuan berlebihan atau perburuan liar. Ketiga, dengan hidup di habitat yang gersang dan sumber pakan kurang, domba Urial terdapat di habitat alam dengan tingkat kepadatan rendah, yaitu biasanya kurang dari satu ekor domba Urial per 100 hektar. Yang terakhir, domba Urial sangat dihargai oleh para pemburu trofi, sehingga domba Urial jantan biasanya diburu secara berlebihan, dan populasinya semakin berkurang. Pemangsa utama domba Urial adalah macan tutul dan serigala.

Sebagaimana trah domba liar lainnya, domba Urial termasuk klasifikasi domba bulu (hair sheep). Keunggulan nyata domba bulu ini adalah mereka tidak memerlukan pencukuran sebagaimana yang harus rutin dilakukan pada domba wol.

Dengan demikian, peternakan domba jenis ini lebih efisien daripada peternakan domba wol. Para peternak luar negeri pun belakangan ini semakin banyak yang mengalihkan perhatian dari domba wol ke domba bulu.

Karena itu, di Eropa dan Amerika sudah cukup banyak peternak yang memelihara domba unggul ini.

Mudah-mudahan, tulisan sederhana ini mampu menimbulkan minat para peternak yang memiliki kemampuan finansial memadai ataupun para pemilik modal Indonesia untuk mendatangkan domba unggul ini ke Indonesia.

Dengan didatangkannya domba unggul ini dari luar negeri ke Indonesia, usaha agrobisnis peternakan Indonesia, terutama peternakan domba, akan semakin berkembang dan koleksi jenis domba yang diternakkan jadi semakin beragam.

Karena galur domba ini belum begitu banyak yang mengembang-biakkannya, dan di Indonesia domba jenis ini belum ada, nilai jualnya tentu relatif tinggi. Nilai jual yang tinggi ini jelas menguntungkan bagi peternaknya.

Sebagai informasi, salah satu ranch di Amerika Serikat menetapkan harga domba Urial dara US$2.000 dan domba Urial bujang US$2.500. Dengan nilai tukar saat ini, harga ini setara dengan sekitar Rp18 juta dan Rp23 juta. Harga yang sangat fantastis untuk seekor domba!

Selain itu, domba unggul ini juga bisa dikawin-silangkan dengan domba lokal untuk menghasilkan domba jenis baru dengan kualitas yang lebih baik dan pasti harganya lebih tinggi.

Peternak yang mengembang-biakkan domba unggul ini dapat membidik tiga segmen pasar sekaligus: pertama, penjualan domba Urial galur murni kepada para peternak yang ingin ikut mengembang-biakkan domba Urial galur murni. Kedua, penjualan peranakan domba Urial hasil perkawinan silang domba Urial jantan dengan domba lokal betina kepada para peternak yang tidak mampu membeli domba Urial galur murni. Ketiga, penjualan peranakan domba Urial ke pasar daging dalam negeri maupun luar negeri.

Penerjemah Inggris-Indonesia:
Hipyan

Sumber:
http://www.iucnredlist.org/apps/redlist/details/15739/0
http://en.wikipedia.org/wiki/Urial
http://www.britannica.com/EBchecked/topic/619771/urial#
http://thewebsiteofeverything.com/animals/mammals/Artiodactyla/Bovidae/Ovis/Ovis-vignei.html

Domba Argali, Domba Liar Terbesar di Dunia

Domba Argali merupakan salah satu spesies domba liar yang ada di dunia. Argali adalah nama dalam bahasa Mongolia untuk jenis domba ini. Nama latin domba Argali adalah Ovis Ammon. Ovis adalah bahasa Latin yang berarti domba, sedangkan Ammon adalah salah satu dewa bangsa Mesir kuno, yang biasanya digambarkan sebagai sosok manusia berkepala domba jantan. Domba Argali banyak ditemukan di kawasan pegunungan Asia Tengah dengan ketinggian 2.500 sampai 5.500 meter di atas permukaan laut yang mencakup daerah pegunungan Himalaya, pegunungan Altay, wilayah Kazakhtan, Kirgistan, Tajikistan, Rusia, Tibet, dan Mongolia. Domba Argali ini biasanya hidup di kawasan padang rumput berbukit-bukit dekat daerah pegunungan.

Dibandingkan dengan spesies domba liar lainnya maupun domba ternak, domba Argali merupakan trah domba terbesar di dunia. Panjang badan domba Argali jantan berkisar 120 sampai 200 cm. Tinggi bahunya mencapai 90 hingga 120 cm pada domba Argali jantan. Bobot hidup domba Argali jantan berkisar dari 65 hingga 180 kg. Dengan karakteristik fisik seperti ini, jelas domba Argali lebih besar daripada domba ternak terbesar di dunia, yaitu domba Lincoln.

Pola warna atau kolorasi umum domba Argali bervariasi, mulai dari kuning muda sampai kelabu-coklat tua, dengan bulu putih di sana-sini pada domba Argali yang sudah tua. Bagian bawah badan domba Argali berwarna keputihan, dan dipisahkan dari warna badan utama oleh garis berwarna gelap di sepanjang kedua sisi badannya. Wajah domba Argali terlihat lebih kecil. Selain itu, domba Argali jantan memiliki lingkar leher berwarna keputihan, yang meliputi hampir seluruh permukaan leher, dan jambul punggung, yang keduanya terlihat lebih jelas pada musim dingin. Domba Argali memiliki bagian pantat berwarna keputihan, meskipun terdapat banyak variasi antar subspesies dalam luas dan batas bagian berwarna keputihan pada pantat ini. Domba Argali dewasa memiliki sepasang tanduk sangat besar berpilin, yang bisa mencapai panjang 190 cm. Domba Argali betina juga bertanduk meskipun tanduknya jauh lebih kecil dan panjangnya jarang lebih dari 30 cm.

Masa kebuntingan domba Argali betina berlangsung selama 150 hingga 160 hari atau sekitar lima bulan. Satu kelahiran dihasilkan 1 atau 2 ekor anak. Anak domba Argali ini akan menyusu pada induknya selama 4 bulan.

Domba Argali betina mencapai usia dewasa kelamin setelah berumur 2 tahun, sedangkan domba Argali jantan baru mencapai usia dewasa kelamin setelah berumur 5 tahun. Domba Argali hidup sampai usia 10 hingga 13 tahun.

Kalau akan segera melahirkan, domba Argali betina memisahkan diri dari kelompoknya dan mencari tempat yang sulit dijangkau untuk melahirkan anaknya. Induk domba Argali dan anak domba yang baru dilahirkannya akan tetap memisahkan diri dari kelompoknya selama beberapa hari, dan selama beberapa hari tersebut anak domba Argali berbaring tak bergerak sementara induknya pergi sejenak mencari makan.

Menurut data yang ada, kepadatan populasi domba Argali berkisar dari 1,0 hingga 1,2 domba per kilometer persegi. Migrasi musiman terjadi pada sebagian populasi domba Argali (terutama domba Argali jantan), meskinpun ada kecenderungan domba Argali umumnya tinggal di daerah pegunungan yang lebih tinggi pada musim panas. Dengan kaki yang relatif panjang, domba Argali mampu berlari dengan cepat dan melarikan diri dari predator atau hewan pemangsanya, meskipun mereka sering harus lari ke lereng-lereng pegunungan yang curam. Domba Argali akan mengeluarkan suara tanda bahaya atau suara dengus tanda peringatan akan datangnya bahaya dengan menghembuskan udara melalui lubang hidungnya kalau ada ancaman hewan pemangsa. Saat berkelahi, domba Argali jantan mengangkat badannya dan berdiri dengan kedua kaki belakang, lalu memiringkan badannya ke depan dan berlari cepat ke arah lawannya dan membenturkan kedua tanduknya.

Domba Argali biasa hidup berkelompok menurut keluarganya dan kelompok domba Argali jantan terpisah dengan kelompok domba Argali betina, kecuali pada musim kawin, di mana setiap kelompok terdiri dari 2 hingga lebih 100 ekor domba Argali.

Makanan utama domba Argali berupa rumput-rumputan dan daun-daunan. Predator atau pemangsa utama domba Argali adalah serigala dan macan tutul salju.

Menurut IUCN (Serikat Konservasi Alam Internasional), domba Argali masuk kategori hewan yang rawan punah atau dua kategori di bawah kategori punah di alam liar. Sepasang tanduk domba Argali jantan terlihat sangat gagah dan indah sehingga domba Argali jantan bernilai sangat tinggi bagi para pemburu. Perburuan domba Argali berperan mengurangi populasi domba liar ini. Namun demikian, ancaman yang lebih serius adalah hilangnya habitat domba Argali akibat peragutan berlebihan (overgrazing) oleh domba ternak.

Saat ini diperkirakan terdapat 20.000 domba Argali yang hidup di Mongolia. Pada musim panas, domba Argali hidup di kawasan pegunungan Altai dengan ketinggian rata-rata 3.500 m dan pada ketinggian 1.100 m di kawasan stepa dan dekat gurun Gobi dan turun ke daerah yang lebih rendah pada musim dingin.

Domba Argali hidup di daerah yang dekat dengan sumber air, rawa asin dan padang rumput dan jarang bergerak jauh dari daerah seperti ini. Musim kawin dimulai dari bulan Oktober sampai November, dan domba Argali betina biasanya melahirkan seekor anak dan jarang melahirkan anak kembar pada bulan April sampai Mei.

Sumber air dan padang rumput domba Argali biasanya merupakan tempat yang sama dengan domba ternak. Di Mongolia terdapat 2 sub-spesies domba Argali: domba Argali Altai dan domba Argali Gobi. Domba Argali Altai sedikit lebih besar daripada domba Argali Gobi dalam ukuran badan dan tanduknya.

Sebagaimana trah domba liar lainnya, domba Argali termasuk klasifikasi domba bulu (hair sheep). Keunggulan nyata domba bulu ini adalah mereka tidak memerlukan pencukuran sebagaimana yang harus rutin dilakukan pada domba wol.

Dengan demikian, peternakan domba jenis ini lebih efisien daripada peternakan domba wol. Para peternak luar negeri pun belakangan ini semakin banyak yang mengalihkan perhatian dari domba wol ke domba bulu.

Mudah-mudahan, tulisan sederhana ini mampu menimbulkan minat para peternak yang memiliki kemampuan finansial memadai ataupun para pemilik modal Indonesia untuk mendatangkan domba unggul ini ke Indonesia.

Dengan didatangkannya domba unggul ini dari luar negeri ke Indonesia, usaha agrobisnis peternakan Indonesia, terutama peternakan domba, akan semakin berkembang dan koleksi jenis domba yang diternakkan jadi semakin beragam.

Karena di luar negeri pun masih sangat langka peternak yang mengembang-biakkan domba Argali, dan di Indonesia domba jenis ini belum ada yang mengembang-biakkannya, nilai jual domba terbesar di dunia ini tentu relatif tinggi. Nilai jual yang tinggi ini jelas menguntungkan bagi peternak yang mengembang-biakkannya.

Sebagai informasi, harga jual domba Argali jantan di Rusia adalah US$7.000. Dengan nilai tukar saat ini, harga ini setara dengan sekitar Rp63 juta. Harga yang sangat fantastis untuk seekor domba!

Selain itu, domba unggul ini juga bisa dikawin-silangkan dengan domba lokal untuk menghasilkan domba jenis baru dengan kualitas yang lebih baik dan pasti harganya lebih tinggi.

Peternak yang mengembang-biakkan domba unggul ini dapat membidik tiga segmen pasar sekaligus: pertama, penjualan domba Argali galur murni kepada para peternak yang ingin ikut mengembang-biakkan domba Argali galur murni. Kedua, penjualan peranakan domba Argali hasil perkawinan silang domba Argali jantan dengan domba lokal betina kepada para peternak yang tidak mampu membeli domba Argali galur murni. Ketiga, penjualan peranakan domba Argali ke pasar daging dalam negeri maupun luar negeri.

Penerjemah Inggris-Indonesia:
Hipyan

Sumber:
http://www.unesco.org/bpi/photo_gallery/mab_2009/argali_sheep.jpg
http://www.argalipark.com/mongolia_argali.html#

Thursday, 27 January 2011

Gambaran Umum Domba Dorper

Kali ini saya tampilkan foto salah satu galur domba pedaging unggul asal luar negeri, domba Dorper. Sebagaimana kambing Boer, domba ini juga jelas sekali memperlihatkan tampilan fisik dengan karakteristik nyata domba pedaging.

Domba Dorper merupakan domba pedaging unggul hasil perkawinan silang yang dilakukan oleh Departemen Pertanian Afrika Selatan antara domba Dorset dan domba Persia kepala hitam. Nama "Dorper" untuk domba hasil perkawinan silang ini merupakan gabungan suku kata awal domba Dorset (Dor-) dan suku kata awal domba Persia (Per-). Karena keunggulannya sebagai domba pedaging, domba Dorper merupakan trah domba kedua yang paling banyak dipelihara para peternak Afrika Selatan. Domba Dorper mampu hidup di daerah gersang dan beriklim tropis di Afrika Selatan. Karena itu, domba Dorper cocok diternakkan di Indonesia yang beriklim tropis sebagaimana iklim di negara asal domba Dorper ini, yaitu Afrika Selatan.

Di luar Afrika Selatan, domba Dorper juga banyak diternakkan di Australia. Di negara Kanguru ini, domba Dorper banyak dipelihara di daerah gurun dan kawasan beriklim tropis benua ini serta daerah selatan Australia yang bercurah hujan tinggi. Domba Dorper ini bahkan terbukti mampu berkembang biak di daerah berhawa sangat dingin dan lembab seperti Tasmania.

Badan domba Dorper dalam, lebar, panjang, dan padat berisi. Domba Dorper jantan bisa mencapai bobot hidup 110 hingga 130 kg, sedangkan domba Dorper betina bisa mencapai bobot hidup 80 sampai 110 kg. Domba Dorper ada yang berkepala hitam dan ada juga yang putih total. Namun demikian, peternak domba Dorper di luar negeri tidak lebih menyukai salah satu di antara kedua jenis domba Dorper ini. Mereka biasanya memelihara baik domba Dorper kepala hitam maupun domba Dorper putih. Mutu kedua jenis domba Dorper ini sama saja; yang berbeda cuma warnanya.

Domba ini termasuk klasifikasi domba bulu (hair sheep), yaitu domba yang kadar bulunya lebih besar daripada wolnya. Berbeda dengan domba wol yang wolnya harus dicukur secara rutin, sebagai domba bulu, domba Dorper tidak perlu dicukur. Di luar negeri yang beriklim empat musim, bulu domba Dorper ini tumbuh cukup lebat di musim gugur dan dingin. Namun demikian, ketika memasuki musim semi dan musim panas, bulu yang lebat tadi luruh dengan sendirinya sehingga yang tertinggal hanya bulunya yang mirip dengan bulu kambing.

Bersambung

Rujukan:
http://www.texasdorpers.com/
http://en.wikipedia.org/wiki/Dorper_%28sheep%29